Liputan6.com, Sanur: Keamanan bisa terwujud jika ada kerjasama antara petugas dan masyarakat. Ini pula yg menjadi kunci sukses konser Karnaval SCTV 2010 di
Lapangan Kapten Japa, Sanur, Bali, Jumat (16/4) malam.
Salah satu organisasi masyarakat yang berperan penting menjaga keaman tersebut adalah pecalang. Mereka merupaka orang-orang yang dipilih warga untuk menertibkan lingkungan. Dalam pagelaran menyambut ulang tahun SCTV ke-20 ini, sebanyak 22 pecalang menjaga lokasi Karnaval.
Menurut Wayan Darto, pecalang dari Desa Kesiman Kertalangu, setiap konser yang digelar di desa adat Bali mesti dijaga pecalang. "Kami selalu membantu Polda Bali menertibkan acara. Maklum, ini desa adat jadi harus ada keamanan adat," ujar Wayan.
Kepercayaan terhadap pecalang juga yang membuat masyarakat harus patuh pada aturan yang dibuat. "Mereka (warga) yang memilih kami. Mereka malu kalau tidak patuh. Kalau kami gagal menertibkan, kami juga malu karena sudah dipilih warga," demikian pengakuan I Made Sika, anggota pecalang lain.
Selain patuh pada pecalang, masyarakat Bali juga punya tradisi menempatkan sesajen di pinggir panggung pertunjukkan. Gunanya, agar acara berjalan lancar. "Ini cara kami 'meminta ijin' agar dihindarkan dari hal- yang tidak diinginkan," lanjut Sika.(OMI)
Lapangan Kapten Japa, Sanur, Bali, Jumat (16/4) malam.
Salah satu organisasi masyarakat yang berperan penting menjaga keaman tersebut adalah pecalang. Mereka merupaka orang-orang yang dipilih warga untuk menertibkan lingkungan. Dalam pagelaran menyambut ulang tahun SCTV ke-20 ini, sebanyak 22 pecalang menjaga lokasi Karnaval.
Menurut Wayan Darto, pecalang dari Desa Kesiman Kertalangu, setiap konser yang digelar di desa adat Bali mesti dijaga pecalang. "Kami selalu membantu Polda Bali menertibkan acara. Maklum, ini desa adat jadi harus ada keamanan adat," ujar Wayan.
Kepercayaan terhadap pecalang juga yang membuat masyarakat harus patuh pada aturan yang dibuat. "Mereka (warga) yang memilih kami. Mereka malu kalau tidak patuh. Kalau kami gagal menertibkan, kami juga malu karena sudah dipilih warga," demikian pengakuan I Made Sika, anggota pecalang lain.
Selain patuh pada pecalang, masyarakat Bali juga punya tradisi menempatkan sesajen di pinggir panggung pertunjukkan. Gunanya, agar acara berjalan lancar. "Ini cara kami 'meminta ijin' agar dihindarkan dari hal- yang tidak diinginkan," lanjut Sika.(OMI)