Liputan6.com, Jakarta Cara menghilangkan bau pipis kucing yang efektif dimulai dengan menyerap urine sesegera mungkin, kemudian membersihkan area menggunakan pembersih enzimatik. Jika produk khusus belum tersedia, cuka dan baking soda bisa menjadi alternatif untuk membantu mengurangi bau.
Masalahnya, urine kucing mengandung senyawa yang dapat meninggalkan aroma menyengat meski permukaan terlihat sudah bersih. Jika sisa urine tidak ditangani dengan tepat, bau bisa muncul kembali dan mendorong kucing pipis di tempat yang sama.
Dilansir dari petMD, pembersih berbasis enzim dapat membantu mengurai senyawa penyebab bau urine. Hindari produk berbahan amonia, serta pastikan area yang terkena urine dibersihkan dan dikeringkan secara menyeluruh. Dengan begitu, cara menghilangkan bau pipis kucing tidak sekadar menyamarkan aroma, tetapi juga membantu mengatasi sumbernya, berikut ulasan Liputan6.com.
Advertisement
1. Cara Menghilangkan Bau Pipis Kucing dengan Pembersih Enzimatik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495957/original/070911600_1770450010-Gemini_Generated_Image_u3yvl1u3yvl1u3yv.png)
Pembersih enzimatik menjadi pilihan utama jika kamu ingin menghilangkan bau pipis kucing hingga ke sumbernya. Produk ini bekerja dengan bantuan enzim, yaitu protein yang mempercepat reaksi kimia untuk menguraikan senyawa organik penyebab bau. Berbeda dari pewangi yang hanya menyamarkan aroma, pembersih enzimatik membantu memecah sisa urine yang menempel pada permukaan atau meresap ke dalam serat kain dan karpet.
Dikutip dari WebMD, pembersih enzimatik membantu menguraikan senyawa dalam urine kucing, termasuk asam urat, sehingga residu penyebab bau lebih mudah dihilangkan. Agar hasilnya optimal, kamu perlu membersihkan area yang terkena urine secara menyeluruh dan memberi waktu bagi produk untuk bekerja. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan.
-
Temukan sumber bau. Singkirkan barang-barang di sekitar area yang terkena urine, lalu periksa apakah ada noda basah atau bekas yang sudah mengering. Jika noda sulit terlihat, kamu bisa menggunakan lampu ultraviolet (UV) untuk membantu menemukannya. Sisa urine tertentu dapat berpendar di bawah sinar UV, terutama ketika sudah kering.
-
Serap urine tanpa menggosoknya. Tekan noda menggunakan tisu tebal atau kain penyerap hingga cairan tidak lagi terangkat. Hindari menggosok permukaan karena tindakan ini dapat membuat urine menyebar dan meresap lebih dalam ke serat karpet, kasur, atau kain pelapis furnitur.
-
Basahi area dengan pembersih enzimatik. Semprotkan produk pada bagian yang terkena urine hingga cukup meresap, termasuk area di sekeliling noda. Jangan hanya membersihkan bagian yang terlihat karena urine bisa menyebar lebih luas atau masuk ke lapisan bawah permukaan. Pastikan penggunaan produk sesuai petunjuk pada label.
-
Gunakan air sesuai petunjuk produk. Jika pembersih perlu diencerkan, ikuti takaran yang tertera pada kemasan. Hindari menggunakan air panas tanpa petunjuk khusus karena suhu tinggi dapat memengaruhi kerja enzim atau membuat penanganan noda menjadi kurang efektif.
-
Beri waktu agar enzim bekerja. Jangan langsung mengelap pembersih setelah disemprotkan. Diamkan selama waktu yang dianjurkan pada label agar enzim memiliki kesempatan menguraikan residu urine. Waktu kerja setiap produk bisa berbeda, sehingga petunjuk penggunaan tetap menjadi acuan utama.
-
Biarkan area mengering sempurna. Setelah proses pembersihan selesai, biarkan permukaan kering sesuai petunjuk produk. Kamu bisa membantu sirkulasi udara dengan membuka jendela atau menyalakan kipas angin. Jauhkan kucing dari area tersebut selama proses pembersihan dan pengeringan berlangsung.
Untuk memilih produk, kamu bisa mencari pembersih berlabel pet stain and odor eliminator atau enzymatic cleaner di toko perlengkapan hewan maupun klinik hewan. Dokter hewan Jennifer Summerfield, DVM, dalam ulasan yang dikutip Petco merekomendasikan Nature's Miracle dan Urine Off sebagai pilihan untuk mengatasi bau urine kucing. Apa pun produknya, periksa petunjuk pemakaian dan pastikan formulanya aman untuk permukaan yang dibersihkan serta digunakan sesuai arahan untuk lingkungan yang dihuni hewan peliharaan.
Advertisement
2. Cara Menghilangkan Bau Pipis Kucing dengan Bahan Dapur
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-square-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/5496734/original/004217500_1770598951-unnamed__1_.jpg)
Jika belum memiliki pembersih enzimatik, beberapa bahan dapur seperti cuka putih dan baking soda bisa digunakan untuk membantu mengurangi bau pipis kucing. Cara ini cukup praktis, terutama untuk menangani noda yang masih baru. Namun, bahan-bahan tersebut tidak selalu mampu menghilangkan seluruh residu urine, sehingga bau berpotensi muncul kembali jika sumbernya belum teratasi.
Agar hasilnya lebih optimal, bersihkan urine terlebih dahulu sebelum menggunakan bahan dapur. Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba sesuai jenis permukaan yang terkena noda.
-
Siapkan larutan cuka dan air. Campurkan cuka putih dan air dengan perbandingan 1:1 ke dalam botol semprot. Larutan ini dapat membantu mengurangi bau pada sejumlah permukaan yang tahan terhadap asam. Namun, hindari penggunaannya pada marmer, batu alam, dan permukaan sensitif lainnya karena keasaman cuka berisiko merusak lapisan material.
-
Semprotkan larutan dan serap sisanya. Aplikasikan larutan pada area yang terkena urine secukupnya, lalu diamkan selama beberapa menit sebelum menyerap cairan dengan kain bersih. Jangan membasahi karpet atau furnitur secara berlebihan karena kelembapan yang terperangkap justru dapat menimbulkan masalah baru.
-
Gunakan baking soda untuk membantu menyerap bau. Setelah cairan terserap dan permukaan cukup kering, taburkan baking soda secara tipis pada area yang terkena noda. Diamkan selama beberapa jam jika sesuai dengan jenis permukaannya, kemudian bersihkan menggunakan vacuum cleaner. Pastikan tidak ada sisa bubuk yang terjangkau kucing, terutama jika hewan peliharaan berpotensi menjilat atau menelannya.
-
Pilih bahan penyerap alternatif dengan hati-hati. Jika baking soda tidak tersedia, kamu mungkin mempertimbangkan bahan penyerap lain, seperti tepung maizena. Namun, bahan tersebut tidak memiliki kemampuan yang sama dalam menetralkan residu urine. Hindari menggunakan pasir kucing bekas karena dapat membawa kotoran dan bakteri ke area yang sedang dibersihkan.
-
Tekan karpet dengan kain penyerap. Untuk noda pada karpet, letakkan kain bersih atau beberapa lembar tisu tebal di atas area yang sudah dibasahi sesuai petunjuk pembersih. Tekan perlahan agar cairan terserap, lalu ganti kain jika sudah terlalu basah. Hindari meletakkan buku atau benda berat semalaman di atas karpet yang lembap karena dapat menghambat pengeringan dan berisiko merusak material.
-
Lanjutkan dengan pembersih enzimatik jika diperlukan. Jika bau masih tercium setelah pembersihan awal, gunakan pembersih enzimatik yang sesuai dengan permukaan tersebut. Pastikan sisa cuka atau bahan pembersih sebelumnya sudah ditangani sesuai petunjuk produk. Jangan mencampurkan berbagai bahan pembersih secara langsung karena kombinasi tertentu dapat menghasilkan reaksi yang berbahaya.
Meski mudah ditemukan, bahan dapur memiliki keterbatasan dalam mengatasi bau pipis kucing. Mengacu pada penjelasan WebMD, bahan seperti cuka dan baking soda dapat membantu mengurangi aroma, tetapi belum tentu mampu menguraikan seluruh residu asam urat yang tertinggal. Karena itu, pembersih enzimatik tetap menjadi pilihan yang lebih tepat ketika bau sulit hilang atau kembali muncul setelah beberapa waktu.
Hindari pula mencampurkan cuka dengan hidrogen peroksida dalam satu wadah atau mengaplikasikannya secara bersamaan. Kombinasi tersebut dapat menghasilkan asam perasetat yang bersifat mengiritasi dan berbahaya. Sebaiknya gunakan satu produk sesuai petunjuk, pastikan area memiliki ventilasi yang baik, dan jauhkan kucing sampai permukaan aman serta benar-benar kering.
3. Cara Menghilangkan Bau Pipis Kucing Berdasarkan Jenis Permukaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354423/original/062156800_1790050957-Tanaman_hias_yang_aman_untuk_kucing_dan_bikin_anabul_betah_di_rumah_jenis_pakis_boston.jpg)
Setiap permukaan memiliki daya serap yang berbeda, sehingga cara membersihkan urine kucing perlu disesuaikan dengan materialnya. Karpet dan kasur, misalnya, dapat menyimpan urine hingga ke lapisan dalam, sedangkan lantai kayu berisiko mengalami kerusakan jika terkena cairan pembersih yang tidak sesuai. Dengan penanganan yang tepat, bau bisa dikurangi tanpa merusak barang yang terkena noda.
Karpet dan Sofa
Karpet dan sofa berbahan kain dapat menyerap urine dengan cepat. Jika cairan merembes ke lapisan busa atau bantalan di bawahnya, bau mungkin tetap bertahan meski permukaan sudah dibersihkan. Untuk mengatasinya, lakukan langkah berikut.
-
Serap urine dan bilas seperlunya. Tekan noda menggunakan kain bersih atau tisu tebal tanpa menggosoknya. Jika diperlukan, gunakan sedikit air bersih untuk membantu mengangkat sisa urine, kemudian serap kembali. Kamu juga bisa memakai penyedot cairan atau wet/dry vacuum jika tersedia dan sesuai untuk material tersebut.
-
Hindari penggunaan pembersih uap bersuhu tinggi. Mengacu pada panduan petMD, panas dari steam cleaner dapat membuat noda dan bau lebih sulit dihilangkan. Karena itu, pilih metode pembersihan yang sesuai dengan petunjuk perawatan karpet atau sofa.
-
Periksa bagian bawah karpet dan bantalan sofa. Jika urine sudah meresap ke lapisan bawah, bersihkan bagian tersebut menggunakan produk enzimatik yang sesuai. Bantalan yang terkontaminasi berat dan tetap berbau setelah dibersihkan mungkin perlu diganti. Untuk lantai di bawah karpet, pastikan permukaannya juga dibersihkan dan dikeringkan sebelum karpet dipasang kembali.
Untuk panduan yang lebih terperinci, kamu juga bisa membaca cara menghilangkan bau pipis kucing di karpet dengan bahan sederhana yang ada di rumah.
Kasur
Urine kucing yang meresap ke kasur dapat meninggalkan bau cukup lama, terutama jika mencapai lapisan busa bagian dalam. Karena itu, hindari langsung membasahi kasur dengan terlalu banyak cairan. Semakin banyak air yang masuk, semakin lama pula proses pengeringannya.
-
Serap cairan sebanyak mungkin. Tekan bagian yang terkena urine menggunakan handuk bersih sampai cairan tidak lagi terangkat. Jangan menggosok atau menekan terlalu keras karena urine bisa menyebar ke area yang lebih luas.
-
Gunakan pembersih enzimatik secukupnya. Aplikasikan pembersih pada area yang terkena urine dan sekitarnya sesuai petunjuk produk. Pastikan cairan menjangkau bagian yang terkena noda tanpa membasahi kasur secara berlebihan. Diamkan selama waktu yang dianjurkan, kemudian serap sisa cairan jika petunjuk produk mengharuskannya.
-
Keringkan kasur sebelum digunakan kembali. Buka jendela atau arahkan kipas angin agar sirkulasi udara membantu proses pengeringan. Hindari menutupi noda dengan handuk dan sprei saat kasur masih lembap karena dapat menghambat pengeringan. Sebaiknya gunakan kasur kembali setelah benar-benar kering.
Jika kasur yang terkena urine berbahan busa, simak juga cara menghilangkan bau pipis kucing di kasur busa untuk mendapatkan panduan yang lebih spesifik.
Pakaian dan Kain
Pakaian, selimut, sarung bantal, dan kain pelapis yang terkena urine kucing umumnya lebih mudah dibersihkan karena bisa dicuci. Namun, bau dapat bertahan jika sisa urine belum terangkat sempurna. Agar tidak perlu mencuci berulang kali, ikuti tahapan berikut.
-
Bilas noda dengan air dingin. Bilas bagian yang terkena urine sebelum memasukkannya ke mesin cuci. Air dingin membantu mengangkat sisa cairan tanpa memberikan paparan panas yang tidak diperlukan.
-
Gunakan pembersih enzimatik. Rendam pakaian atau kain menggunakan produk enzimatik yang aman untuk tekstil, sesuai petunjuk pada label. Jika produk tidak ditujukan untuk perendaman, aplikasikan sesuai cara penggunaan yang dianjurkan. Setelah itu, lanjutkan proses pencucian.
-
Cuci dengan deterjen yang sesuai. Gunakan deterjen biasa sesuai takaran. Jika ingin menambahkan baking soda atau cuka, periksa petunjuk mesin cuci dan bahan kain terlebih dahulu. Jangan mencampurkan cuka dengan produk pembersih lain secara sembarangan karena kombinasi tertentu dapat menimbulkan reaksi berbahaya.
-
Periksa bau sebelum dikeringkan. Setelah dicuci, cium kembali bagian yang terkena urine. Jika bau masih tertinggal, ulangi proses pembersihan sebelum menggunakan pengering bersuhu tinggi. Panas dapat membuat penanganan noda menjadi lebih sulit, sehingga pastikan bau sudah hilang sebelum kain dikeringkan dengan panas.
Lantai Kayu dan Semen
Lantai kayu dan semen memerlukan penanganan berbeda. Kayu, terutama yang lapisan pelindungnya sudah rusak, dapat menyerap urine melalui celah dan sambungan. Sementara itu, semen yang tidak dilapisi bahan kedap air juga memiliki pori-pori yang memungkinkan urine meresap ke dalam permukaan.
-
Serap urine dan bersihkan permukaannya. Gunakan kain atau tisu penyerap untuk mengangkat cairan sesegera mungkin. Setelah itu, aplikasikan pembersih yang sesuai dengan jenis lantai. Hindari penggunaan cairan secara berlebihan pada kayu karena kelembapan dapat menyebabkan permukaan mengembang atau lapisannya rusak.
-
Uji produk pada area tersembunyi. Sebelum menggunakan pembersih enzimatik atau bahan lain, coba sedikit produk di bagian yang tidak mencolok. Langkah ini membantu memastikan produk tidak mengubah warna atau merusak lapisan pelindung lantai. Ikuti petunjuk penggunaan dan waktu kontak yang tercantum pada kemasan.
-
Pertimbangkan perbaikan untuk noda membandel. Jika bau tetap muncul meski sudah dibersihkan berulang kali, urine mungkin telah meresap ke celah, lapisan bawah, atau bagian kayu yang belum terlindungi. Dalam kasus berat, perbaikan bisa melibatkan pengamplasan dan pelapisan ulang lantai kayu. Namun, tindakan tersebut sebaiknya menjadi pilihan terakhir setelah sumber bau dipastikan dan metode pembersihan yang sesuai telah dicoba.
Pada lantai semen, pembersihan mungkin perlu dilakukan lebih dari sekali jika urine sudah meresap ke pori-pori. Gunakan produk yang sesuai dengan material dan pastikan area mengering sempurna sebelum kembali digunakan kucing. Jika bau terus muncul, periksa pula bagian sambungan lantai, sudut ruangan, dan area di bawah furnitur yang mungkin luput dibersihkan.
Advertisement
Kesalahan yang Bikin Bau Pipis Kucing Tidak Hilang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497842/original/044732900_1770691308-unnamed.jpg)
Bau pipis kucing terkadang kembali muncul meski area yang terkena urine sudah dibersihkan berkali-kali. Hal ini bisa terjadi karena sisa urine masih tertinggal di dalam serat atau pori-pori permukaan, atau karena metode pembersihan yang digunakan kurang tepat. Mengacu pada penjelasan Ecolife, salah satu cara sederhana untuk mengecek hasil pembersihan adalah mencium area setelah benar-benar kering. Jika aroma urine masih tercium, proses pembersihan mungkin perlu diulang.
Agar bau tidak terus kembali, hindari beberapa kesalahan berikut saat membersihkan urine kucing.
-
Menggunakan pembersih berbahan amonia. Aroma amonia menyerupai salah satu komponen yang terdapat dalam urine kucing sehingga dapat membuat area tersebut kembali menarik bagi kucing untuk buang air. Dokter Bruce Kornreich, DVM, Ph.D., dari Cornell Feline Health Center, dalam penjelasan yang dikutip petMD, mengingatkan bahwa aroma amonia dapat mendorong kucing pipis kembali di tempat yang sama. Sebaiknya, pilih pembersih yang memang dirancang untuk mengatasi noda dan bau urine hewan.
-
Mencampurkan pemutih dengan pembersih lain. Jangan mencampurkan pemutih atau produk berbahan klorin dengan pembersih urine, cuka, amonia, maupun bahan kimia lainnya. Kombinasi tertentu dapat menghasilkan gas berbahaya. Penggunaan bahan yang tidak sesuai juga berisiko mengurangi efektivitas pembersih enzimatik. Gunakan satu produk sesuai petunjuk pada label dan hindari mencampur berbagai cairan pembersih secara sembarangan.
-
Menggosok noda terlalu keras. Menggosok permukaan secara berlebihan dapat membuat urine menyebar ke area yang lebih luas atau masuk lebih dalam ke serat karpet, kain, dan busa. Sebagai gantinya, tekan noda menggunakan tisu tebal atau kain penyerap hingga cairan terangkat. Setelah itu, aplikasikan pembersih yang sesuai dengan jenis material.
-
Menggunakan air panas tanpa memperhatikan jenis material. Air panas tidak selalu cocok untuk membersihkan noda urine, terutama jika digunakan bersama metode pembersihan yang tidak sesuai. Suhu tinggi juga dapat memengaruhi kerja enzim pada produk tertentu. Untuk menghindari masalah, gunakan air dingin atau suhu yang dianjurkan dalam petunjuk pembersih.
-
Tidak memberi waktu bagi enzim untuk bekerja. Pembersih enzimatik membutuhkan waktu kontak yang cukup agar dapat menguraikan residu organik penyebab bau. Jika produk langsung dilap atau dibilas, hasilnya mungkin kurang optimal. Karena itu, ikuti petunjuk penggunaan pada kemasan, termasuk lama waktu produk perlu didiamkan sebelum sisa cairan dibersihkan.
-
Menutup area sebelum benar-benar kering. Menutupi karpet, kasur, atau sofa yang masih lembap dapat menghambat pengeringan dan membuat bau bertahan lebih lama. Pastikan area yang dibersihkan mendapat sirkulasi udara yang baik. Jika urine meresap hingga lapisan dalam, periksa bagian tersebut karena permukaan yang tampak kering belum tentu bebas dari sisa cairan.
-
Hanya mengandalkan pengharum ruangan. Pewangi ruangan dapat menyamarkan aroma urine, tetapi tidak menghilangkan sumbernya. Setelah aroma pewangi memudar, bau pipis kucing bisa kembali tercium. Hindari pula penggunaan minyak esensial secara sembarangan di sekitar kucing karena sejumlah jenis minyak dapat membahayakan hewan peliharaan. Utamakan pembersihan menyeluruh menggunakan produk yang sesuai.
-
Mengabaikan penyebab kucing pipis di luar kotak pasir. Bau yang terus muncul juga bisa berkaitan dengan kebiasaan buang air kucing. Kotak pasir yang kotor, ukuran yang kurang sesuai, perubahan lingkungan, dan stres dapat membuat kucing memilih tempat lain. Selain menjaga kebersihan kotak pasir, perhatikan perubahan perilakunya. Jika kucing mendadak sering pipis, mengejan, mengeluarkan urine sedikit-sedikit, atau menunjukkan tanda kesakitan, segera konsultasikan dengan dokter hewan karena kondisi tersebut bisa menandakan gangguan kesehatan.
Intinya, cara menghilangkan bau pipis kucing tidak cukup hanya dengan membersihkan permukaan atau menyemprotkan pewangi. Pastikan sumber urine teratasi, gunakan produk sesuai petunjuk, dan tunggu sampai area benar-benar kering sebelum memeriksa kembali aromanya. Jika bau tetap muncul, periksa kemungkinan urine meresap ke lapisan bawah atau ada bagian lain yang belum dibersihkan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Bau Pipis Kucing
Apakah bau pipis kucing bisa hilang permanen?
Bisa, asalkan area dibersihkan tuntas dengan pembersih enzimatik sampai asam uratnya terurai. Namun, saat cuaca sangat panas atau lembap, sisa bau kadang muncul lagi. Kalau itu terjadi, cukup ulangi proses pembersihan sampai baunya benar-benar hilang.
Bagaimana cara menghilangkan bau pipis kucing yang sudah lama dan kering?
Cari lokasi noda dengan lampu UV di ruangan gelap, lalu basahi dengan sedikit air dingin. Setelah itu, aplikasikan pembersih enzim secara melimpah dan biarkan kering sendiri. Noda lama biasanya butuh lebih dari satu kali perawatan.
Apakah cuka dan baking soda cukup untuk menghilangkan bau pipis kucing?
Untuk noda yang masih baru, cuka dan baking soda cukup membantu mengurangi bau dengan cepat. Hanya saja, keduanya tidak mengurai asam urat sepenuhnya, jadi bau bisa kembali. Sebaiknya jadikan bahan dapur sebagai pertolongan pertama, lalu lanjutkan dengan pembersih enzim.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353323/original/048061500_1789960533-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T101401.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4751478/original/019919400_1708694702-Gus_Iqdammmm.ok.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378214/original/055597900_1792492609-Screenshot_2026-10-20_171752.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499622/original/086606300_1770791225-Tetapkan_Rutinitas____Military_Style____untuk_Pembersihan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359157/original/051749400_1790486690-Gemini_Generated_Image_m1b1kqm1b1kqm1b1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4199341/original/055639700_1666344669-bacaan-doa-untuk-orang-meninggal-latin-dan-artinya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378494/original/041212500_1792544443-d6d77b99-fe93-44a0-b05e-d70f675a566b.jpg)