Liputan6.com, Ambon: Kerusuhan yang melanda Maluku telah menghadirkan budaya kekerasan pada anak-anak di Kota Ambon. Sebagian anak cenderung menyukai permainan tembak-tembakan dan petasan dibandingkan permainan lainnya. Demikian dikemukakan pengamat sosial Mahmud Reingfurwarin di Ambon, Senin (14/01).
Menurut Mahmud, permainan seperti petak umpet kini tak lagi populer di kalangan anak-anak Ambon. Unsur kekerasan kini lebih dominan dalam permainan mereka. Bocah bernama Irfan, misalnya, mengaku hampir semua uang jajannya ditabung untuk membeli petasan dan senjata mainan. Hal yang sama juga dilakukan anak-anak lainnya yang berlomba-lomba membeli senjata mainan yang paling bagus.
Kondisi ini menurut Mahmud, harus segera diatasi. Pendidikan agama, peningkatan pendidikan formal dan informal diharapkan menjadi peredam suhu kekerasan di lingkungan anak-anak. Sebab, bila anak-anak dibiarkan akrab dengan kekerasan perkembangan hidupnya akan terganggu dan berbahaya di masa depan.(YYT/Sahlan Heluth)
Menurut Mahmud, permainan seperti petak umpet kini tak lagi populer di kalangan anak-anak Ambon. Unsur kekerasan kini lebih dominan dalam permainan mereka. Bocah bernama Irfan, misalnya, mengaku hampir semua uang jajannya ditabung untuk membeli petasan dan senjata mainan. Hal yang sama juga dilakukan anak-anak lainnya yang berlomba-lomba membeli senjata mainan yang paling bagus.
Kondisi ini menurut Mahmud, harus segera diatasi. Pendidikan agama, peningkatan pendidikan formal dan informal diharapkan menjadi peredam suhu kekerasan di lingkungan anak-anak. Sebab, bila anak-anak dibiarkan akrab dengan kekerasan perkembangan hidupnya akan terganggu dan berbahaya di masa depan.(YYT/Sahlan Heluth)