Liputan6.com, Jakarta Keputusan pesepak bola untuk gantung sepatu bisa disebabkan sejumlah alasan. Bisa karena cedera atau karier yang kurang cemerlang di lapangan hijau.
Advertisement
Gabriel Batistusta, misalnya. Ia memutuskan pensiun lantaran sudah kesulitan untuk berjalan. Hal ini disebabkan cedera engkel sangat parah.
Bahkan, eks striker Fiorentina dan Timnas Argentina tersebut sempat meminta dokter agar mengantisipasi kakinya karena sudah tidak kuat menahan sakit. Tentu saja permintaan itu ditolak dokter dan menyarankan agar Batistuta memasang skrup diengkelnya lewat operasi.
Operasi itu berjalan sukses dan Batistuta kembali bisa berjalan. Tetapi, ia memutuskan tidak kembali ke sepak bola yang telah membesarkan namanya. Batistuta menekuni olahraga baru, yakni polo.
Berikut 5 pesepak bola yang sukses di olahraga lain:
5. Gabriel Batistuta
Gabriel Batistuta adalah salah satu striker yang paling dihormati Argentina. Ia dikenal karena prestasinya bersama klub Italia, Fiorentina.
Bersama bintang Timnas Portugal, Rui Costa, Batitusta membuat klub berjuluk La Viola itu terkenal. Ia mencetak 207 gol dari 332 penampilannya bersama Fiorentina.
Setelah pensiun pada 2005 lalu, Batistuta ternyata mengalami cedera engkel sangat parah yang membuatnya tak bisa berjalan. Bahkan, ia meminta dokter untuk mengamputasi kakinya.
Dokter lalu merekomendasikan Batistuta untuk menjalani operasi pemasangan dua skrup di engkelnya. Skrup tersebut untuk meringankan beban berat badan yang ditanggung kakinya sehingga rasa sakitnya berkurang.
Setelah pemasangan skrup, Battitusta dapat kembali berjalan. Tapi, eks pemain Timnas Argentina itu tidak kembali menekuni sepak bola meski memiliki lisensi pelatih. Ia justru menekuni poli, berlatih dengan Adolfo Cambiasso, pemain polo nomor satu dunia.
Hingga kini, Battitusta terus menggeluti polo. Ia pun memiliki sebuah tim yang disebut La Gloria dan berkostum warna ungu.
4. Leon McKenzie
Leon McKenzie mencetak 115 gol dalam 393 pertandingan di level klub. Ia membantu Norwich City promosi ke Liga Inggris di 2015. Tetapi, kariernya terhenti akibat cedera. McKenzie sempat bermain untuk Charlton Athletic, Northampton Town, serta Coventry City.
Kehidupan pribadinya yang beratakan dan kesulitan keuangan membuat McKenzie sempat mencoba untuk bunuh dini pada usia 31 tahun. Ayahnya, Clinton, menyelamatkan hidupnya dan mengajak sang anak untuk mendampinginya di gym tinju.