Kala Anak Putus Sekolah Jadi Pengawas Pemancing Waduk Jatiluhur

Ia diangkat jadi pengawas pemancing waduk Jatiluhur sesaat setelah penyergapan teroris Purwakarta.

oleh Abramena diperbarui 27 Des 2016, 19:31 WIB
Ia diangkat jadi pengawas pemancing waduk Jatiluhur sesaat setelah penyergapan teroris Purwakarta. (Liputan6.com/Abramena)

Liputan6.com, Purwakarta - Ada kejadian unik saat Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memantau lokasi penyergapan terduga teroris di Kampung Karanglayung, Desa Cibinong, Kecamatan Jatiluhur, Purwakarta, Senin, 26 Desember 2016.

Secara tidak sengaja, Dedi bertemu dengan seorang bocah putus sekolah yang tengah bermain di sekitar dermaga Pelabuhan Ubrug di Waduk Jatiluhur.

Bocah yang belakangan diketahui bernama Yadi Mulyadi (12) itu berasal dari daerah Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Ia diketahui tinggal bersama kedua orangtuanya, Udin (45) dan Pipih (40) di sebuah gubuk yang terletak di Kampung Pasir Kadongdong, sebuah pulau di tengah Danau Jatiluhur.

"Ka dieu, jang! Keur naon? Sakola teu? (Ke sini, nak! Sedang apa? Sekolah gak?)," tanya Dedi kepada bocah tersebut.

Bocah laki-laki itu kemudian menghampiri pria yang akrab disapa Kang Dedi itu seraya mengakui dirinya sudah tidak lagi sekolah. Kegiatan sehari-harinya lalu diisi dengan membantu kedua orangtuanya yang menjadi pemulung sampah plastik di area pinggir Danau Jatiluhur.

"Tos teu sakola Pak (Sudah tidak sekolah Pak)," jawab dia.

Kepada Dedi, Yadi menuturkan sudah berhenti sekolah sejak kelas IV SD. Itu disebabkan kedua orangtuanya tidak mampu membiayai sekolahnya dan selalu berpindah-pindah tempat tinggal.

"Bapa sama ibu mulung limbah plastik. Saya juga sempat ikut ke Palembang bantu orang tua cari uang, dari situ saya tidak sekolah lagi," ujar Yadi.

Yadi kemudian menyampaikan keinginan untuk bersekolah kembali. Namun, dia kebingungan karena tidak berani meminta perlengkapan sekolah, seperti buku dan seragam, kepada kedua orangtuanya.

Karena itu, anak ketiga dari empat bersaudara itu kemudian hanya mengisi hari-harinya dengan membantu para pekerja di sekitar dermaga untuk bertahan hidup dan membeli sebungkus rokok.

"Kalau ada yang ngajak paling ikut panen ikan, ikut ngepak barang sama ngangkut," ujar dia.

Dedi kemudian memberi tawaran yang diharapkan Yadi. Ia berjanji menyekolahkan Yadi dengan satu syarat.

"Mau nggak berhenti merokok? Kalau mau, saya masukkan sekolah langsung ke kelas VI," ujar Dedi.

Menjelang akhir perbincangan, Yadi kemudian mencetuskan saran tak terduga. Ia meminta agar Dedi menertibkan para para pemancing ikan yang setiap hari lalu lalang tanpa kontrol dari pihak otorita Waduk Jatiluhur.

Menurut Yadi, jika ingin tertib, setiap orang yang ingin memancing ikan harus menyimpan KTP atau kartu identitas lain mereka di Ketua RT atau RW setempat.

"Kalau ingin tertib mah kedah na KTP na disimpen di Ketua RT atanapi RW Pak. (Kalau ingin tertib, harusnya KTP—orang yang memancing ikan di Danau Jatiluhur disimpan di Ketua RT atau RW Pak)," ujar Yadi.

Ide brilian bocah tersebut langsung direspon oleh Dedi. Ia bahkan mengangkat bocah itu sebagai Koordinator Kebersihan di Dermaga Pelabuhan Ubrug juga sebagai pengawas para pemancing ikan yang setiap hari datang ke wilayah itu.

"Ide anak ini bagus, maka saya angkat dia menjadi koordinator kebersihan dan pengawas para pemancing ikan. Saya juga akan sekolahkan anak ini, kasihan putus sekolah," ujar Dedi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya