Pedagang Semringah Pemerintah Buka Keran Impor Daging Kerbau

Pedagang daging menyambut positif langkah pemerintah yang kembali membuka keran impor 48 ribu ton daging kerbau dari di India‎.

oleh Septian Deny diperbarui 26 Des 2016, 15:40 WIB
Pengunjung saat memilih daging kerbau pada acara sosialisasi di Kantor Perum Bulog, Jakarta, Jumat (2/9). Pemerintah melalui Bulog memang menargetkan akan mendatangkan 750 ton daging kerbau impor dari India. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pedagang daging menyambut positif langkah pemerintah yang kembali membuka keran impor 48 ribu ton daging kerbau dari di India‎. Impor tersebut dilakukan untuk menekan harga daging yang berpotensi naik pada awal tahun depan.

‎Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi mengatakan, terlepas dari pro dan kontra, para pedagang daging menyambut baik impor daging kerbau dari India. Adanya ini akan membuat harga daging yang dijual di pasaran semakin terjangkau.

"Pedagang memilihatnya secara positive thinking. Karena posisinya sekarang pemerintah perlu memberikan pelayan ke seluruh lapisan masyarakat. Masalah pro kontra itu hal yang biasa," ujar dia di Jakarta, Senin (26/12/2016).

Asnawi mengungkapkan, daging kerbau yang dijual di pasaran punya harga yang jauh lebih murah ketimbang daging sapi segar. Setidaknya ada perbedaan harga hingga 35 ribu per kg untuk kedua jenis daging tersebut.

"Daging kerbau yang harganya Rp 70 ribu-Rp 80 ribu‎ per kg. Daging sapi beku perbedaannya Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per kg, atau di sekitar 90 ribu. Dan daging sapi segar itu bedanya juga Rp 20 ribu (dengan daging sapi beku), sekitar Rp 115 ribu per kg," kata dia.

Adanya daging kerbau beku asal India ini, ujar Asnawi, sebagai bukti pemerintah juga memberikan ‎perhatian kepada masyarakat kelas menengah ke bawah untuk mencukupi kebutuhan proteinnya melalui konsumsi daging.

"Adanya sikap (impor daging kerbau) ini artinya pemerintah menyesuaikan kebutuhan masing-masing konsumen. Pemerintah melihat tidak semua masyarakat punya pendapatan yang sama. Pemerintah melihat sebelum kebijakan ini dikeluarkan yang mengkonsumsi daging adalah masyarakat penghasilan menengah ke atas, yang menengah ke bawah sangat jarang. Dengan ini berarti pemerintah membuka bursa pasar, jadi konsumen bisa memilih sesuai kapasitas kantongnya masing-masing," tandas dia.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali membuka keran impor daging kerbau asal India pada periode Desember 2016-Januari 2017. Hal ini sebagai salah satu langkah antisipasi kenaikan ‎harga daging di akhir tahun ini dan a‎wal tahun depan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan, daging kerbau yang akan masuk pada periode tersebut sebesar 48 ribu ton. Hal ini merupakan bagian dari kuota impor yang diberikan kepada Perum Bulog sebesar 70 ribu ton yang awalnya berlaku hingga akhir 2016.

‎"Kami siap Desember-Januari masuk 48 ribu ton.‎ Desember masuk. Saya perpanjang sampai semester I tahun depan," ungkap Enggar.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya