KOLOM: Saat Dewi Fortuna Peluk Zidane

Zidane membawa magis untuk Madrid musim ini. Simak ulasan Asep Ginanjar soal Magis Madrid bersama Zidane.

oleh Liputan6Diterbitkan 23 Desember 2016, 08:12 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Jenius. Begitu tergila-gila pada taktik dan tak segan mengundang pemain datang ke kantornya tengah malam hanya untuk berbicara soal rancangan permainan tertentu. Begitulah Josep Guardiola. Setelah Johan Cruyff, sepertinya hanya pria kelahiran Santpedor ini yang demikian revolusioner di sepak bola.

Rasanya hanya segelintir orang yang akan menyanggah bahwa Guardiola adalah pelatih terbaik di muka bumi saat ini. Sebagian di antaranya tentu para jurnalis olahraga Jerman yang dalam tiga tahun, dari 2014 hingga 2016, tak sekali pun menahbiskannya sebagai Trainer des Jahres (pelatih terbaik). Padahal, sederet trofi dan rekor ditorehkannya bersama Bayern München.

Dengan kegeniusan dan kesuksesannya itu, Guardiola bak seorang nabi. Umatnya tersebar di delapan penjuru mata angin. Ke mana pun dia pergi, hanya ada cinta dan kekaguman yang menyambutnya sejak menginjakkan kaki pertama kali. Di mazhabnya, orang-orang berdesakan demi mendapat pencerahan guna menjadi umat mulia, pemuja sepak bola indah, sepak bola yang seharusnya.

Begitu agungnya Guardiola, sampai-sampai setiap pelatih baru, apalagi yang memang high profile, pasti akan dibanding-bandingkan, diharapkan menapaki jejaknya. Padahal, Tuhan tidak pernah menciptakan dua hal yang identik. Bahkan sepasang orang kembar pun sejatinya tidak benar-benar sama.

Manajer City Pep Guardiola dalam laga melawan Everton, pada Sabtu (15/10/2016) malam. City imbang 1-1. (Reuters / Phil Noble)

Kerikuhan itu dirasakan Zinedine Zidane saat resmi ditunjuk menggantikan Rafael Benitez sebagai entrenador Real Madrid pada awal Januari 2016. Banyak orang berharap dia menjadi Guardiola baru. Apalagi, saat menjadi pemain, Zidane adalah seorang genius yang kerap membius dengan aksi-aksi menawannya di lapangan hijau.

“Jangan bandingkan saya dengan Guardiola. Dia sudah meraih banyak hal luar biasa. Guardiola adalah pelatih fantastis dan melakukan hal yang begitu mengesankan,” jelas Zidane. “Guardiola adalah Guardiola. Saya akan coba melakukan hal terbaik. Saya tak akan membandingkan diri dengan orang lain. Saya tak pernah melakukan hal itu sebagai pemain dan sekarang pun tak akan melakukannya.”

Perkataan Zidane terkesan naif. Namun, bila ditelaah lebih jauh, itu adalah strategi menjauh dari ekspektasi yang terlalu tinggi. Coach Zizou tahu, menjalani hidup seperti Guardiola tidaklah mudah. Sulit menemukan ketenangan. Setiap saat, para jurnalis dan analis selalu mengutak-atik taktik yang digunakannya. Saat menang, puja-puji akan berhamburan. Namun, begitu tim menukik sedikit saja, pena-pena tajam akan datang tanpa ampun.

Lanjut Baca:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya