Kisah Kakek Nasrani Mesir Mengajar Bocah Muslim Baca Alquran

Pemeluk Kristen Koptik berusia 85 tahun itu, mengajar dari Matematika hingga bahasa Arab. Tak hanya itu, ia juga mengajar membaca Alquran.

oleh Arie Mega Prastiwi diperbarui 21 Des 2016, 20:20 WIB
Kisah Kakek Nasrani Mesir Mengajar Bocah Muslim Baca Al-Quran (BBC)

Liputan6.com, Kairo - Di tengah kekerasan antar agama menghiasi surat-surat kabar di Mesir, ada satu kisah penuh inspirasi dan kedamaian di Negeri Piramida itu.

Ia adalah Iyan Shaker Hana. Selama 50 tahun, ia telah mengajar bocah-bocah di kota Minya, selatan Mesir.

Pemeluk Kristen Koptik berusia 85 tahun itu, mengajar dari Matematika hingga bahasa Arab. Namun, tak hanya itu, ia juga mengajar membaca Alquran.

Kepiawannya tersebut memukau banyak netizen kala pertama kali diviralkan oleh BBC Arabic beberapa waktu lalu.

"Tanyalah orang-orang tua, dan para Sheikh, serta kaum muslim di wilayah ini, apakah mereka kenal Iyad. Mereka akan menjawab, 'kenal, ia telah mengajarkan aku, anak-anak perempuanku dan istriku," kata Iyad dalam BBC Arabic seperti dikutip dari egyptianstreet, pada Rabu, (21/12/2016).

"Aku telah mengajar lebih dari 50 tahun. Murid-muridku sudah pada dewasa, menikah dan membawa anak-anak mereka ke sini untuk belajar denganku," lanjutnya.

"Waktu aku mulai pertama kali mengajar, ada 20 hingga 30 murid muslim dan sekitar lima atau 6 nasrani. Mereka belajar di sini. Dan sekarang, lebih dari 120 keluarga semua belajar di sini," tambahnya.

"Ada sekitar 70 hingga 80 murid Muslim dan 30 hingga 40 kristen," kata Iyad sambil menambahkan semua murid yang belajar dengannya butuh restu dari orangtua mereka.

Terkait pengajaran baca Alquran, Iyad mengatakan ia hanya mengajarkan cara membaca, melagukannya, dan memastikan mereka mengeja dengan benar.

"Aku melakukan hal yang sama bagi pemeluk Kristiani ketika belajar Gospel dan ayat di Alkitab," katanya.

Untuk belajar dengan Iyad, para orangtua mengeluarkan uang 10 pound sterling Mesir per bulan. Tapi, jika mereka tak mampu, pria itu membebaskan uang bayaran itu.

"Aku lebih senang dibayar 10 pound dengan cinta dibanding ratusan pound tapi penuh kebencian dan kesedihan," terang Iyad.

Mengajar adalah panggilan jiwanya. Sang ayah, juga seorang pengajar di gereja ortodoks di kampung. Setelah lulus SMA, Iyad fokus belajar bahasa Inggris. Ia seharusnya mengajar di sebuah sekolah, tapi terlalu jauh dari rumahnya.

Sementara sang ayah jatuh sakit, dan memberi wejangan kepadanya, "hanya ada tiga orang di desa ini yang tahu baca tulis, aku, kamu dan ibumu..." Itulah yang membuat Iyad bertekad mendirikan 'kottab' atau kelas kecil di gereja.

Kisah Iyad sendiri bermula pada tahun 1948, ketika seorang bocah datang kepadanya. Ia ingin belajar baca Alquran tapi tak mengerti cara membacanya.

Bermodal kemampuannya sastra Arab, ia mencoba mengajarkan kitab suci itu berdasarkan bahasa dan konsep. Saat itu, di kampungnya, hubungan umat Kristen-Islam sangat harmonis.

"Namun, seiring dengan perkembangan dunia, isu kedua agama itu menjadi sensitif," kata Iyad.

Ia ingat ketika mengajarkan seorang imam dari Mekah, Ahmed el Gergawy di desa itu.

Awalnya, ia enggan anak perempuannya diajarkan baca Alquran oleh Iyad, namun sang anak lebih paham mengerti kitab suci ketika diajarkan Iyad.

"Ia membawakanku Alquran dari Mekah sebagai ucapan terima kasih," tutup Iyad.

Penasaran seperti apa cara Iyad mengajar, ini videonya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya