KOLOM: Timnas Indonesia Tak Boleh Jemawa

Simak ulasan Asep Ginanjar terkait duel semifinal Piala AFF 2016 antara timnas Indonesia vs Vietnam.

oleh Liputan6Diterbitkan 02 Desember 2016, 08:00 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Setelah melalui perjuangan berat selama sepekan di Filipina, timnas Indonesia akhirnya lolos dari lubang jarum. Kemenangan 2-1 atas Singapura pada laga pamungkas memastikan Indonesia lolos ke semifinal karena pada laga lain, Filipina kalah 0-1 dari Thailand.
Kegembiraan membuncah di Stadion Rizal Memorial dan seantero Indonesia ketika Stefano Lilipaly mencetak gol penentu kemenangan 2-1 atas Singapura pada menit ke-85. Kelegaan luar biasa juga terekspresikan nyata saat Masoud Tufaliyeh, wasit asal Suriah, menyudahi laga.

Kegembiraan, kelegaan, dan euforia yang timbul sangat bisa dipahami. Timnas Indonesia datang ke Filipina tanpa ekspektasi tinggi. Sampai-sampai PSSI tak sedari awal menyiapkan venue semifinal. Bahkan, ketika Boaz Solossa cs. memastikan lolos dari penyisihan grup, PSSI malah menyebut Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) sebagai salah satu opsi. Padahal, nyata-nyata rumput di GBLA masih dalam perawatan pasca-PON.

Kelolosan kali ini pun oasis yang menyegarkan setelah Indonesia absen sekitar setahun dari pentas internasional karena sanksi FIFA. Khusus di Piala AFF, ini menegaskan bahwa kegagalan lolos ke semifinal dalam dua gelaran sebelumnya bukanlah tradisi baru, melainkan hanya nasib buruk.

Kini, tantangan baru harus dihadapi. Vietnam menjadi duri bagi timnas Indonesia untuk melangkah ke final, hal yang terakhir kali dilakukan pada 2010. Tentu bukan duri biasa karena Vietnam menyapu bersih tiga kemenangan di penyisihan Grup B. Mereka pun, seperti Thailand, hanya kebobolan dua gol. Itu tersedikit di antara seluruh peserta putaran final Piala AFF kali ini.

Pelatih
Timnas Indonesia, Alfred Riedl (Foto: Helmi Fithriansyah / Liputan6.com)">

Meski begitu, ada keyakinan tinggi terhadap tim asuhan Alfred Riedl untuk laga kali ini. Berbeda dengan saat menjalani penyisihan grup, timnas Indonesia kini disokong optimisme luar biasa. Tiba-tiba saja, ekspektasi melambung tinggi. Para pakar dan pengamat sepak bola nasional optimistis Boaz cs. bisa melewati adangan Le Cong Vinh dkk.

Euforia yang tumbuh ini sebenarnya lebih bersifat emosional. Dia tumbuh bukan karena Tim Garuda digdaya selama di Filipina, melainkan lebih disebabkan kecintaan dan kebanggaan terhadap spirit luar biasa yang ditunjukkan Boaz Solossa dkk.

Dalam berbagai ulasan, tak satu pun pengamat atau pakar yang membeberkan keunggulan teknis Indonesia atas Vietnam. Tak ada yang menyebutkan Boaz dkk. lebih superior dari Cong Vinh cs. Kebanyakan menunjuk semangat juang sebagai kekuatan utama Indonesia. Ada yang terang-terangan menyebut hal itu sebagai faktor penentu yang akan menutupi kekurangan dalam hal taktik dan skill.

Lanjut Baca:

Satu pendapat menarik datang dari Indra Sjafri, pelatih Bali United yang juga eks pelatih timnas U-19. Meski optimistis, dia meminta publik sepak bola Indonesia untuk lebih realistis, tak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Menurut dia, mengingat persiapan yang serbaminim, lolos ke semifinal saja sudah prestasi bagus bagi Indonesia.Boleh-boleh saja publik sepak bola Indonesia menaruh harapan besar, membayangkan Boaz dkk. meraih trofi juara. Itu malah sebuah kewajaran. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi justru bisa menjadi bumerang. Bukan hanya melenakan dan menurunkan kewaspadaan, itu juga bisa menjadi belenggu yang mengganduli kaki Boaz cs.Ekspektasi yang terlalu tinggi bukannya menumbuhkan motivasi. Tak jarang, itu malah membangkitkan ketakutan. Takut terhadap kekalahan, takut mengecawakan para pendukung setia. Beban inilah yang lantas membuat para pemain tak lagi lepas, nothing to lose, saat berada di lapangan. Tengoklah ke belakang, betapa sering Tim Garuda yang terbang tinggi justru terjatuh dan mati karena ekspektasi yang kelewat tinggi. Pada 2010, ekspektasi berlebihan ini pula yang dikeluhkan Riedl. Menurut pelatih asal Austria tersebut, harapan publik untuk melihat timnas berjaya menimbulkan tekanan tersendiri pada diri para pemain. Saat menjalani persiapan jelang bertolak ke Filipina, Riedl kembali mengungkapkan hal itu. Dia secara implisit menyebut ekspektasi berlebihan sebagai bahaya laten bagi Boaz dkk. Pasalnya, dalam ekspektasi itu, para pendukung timnas menutup mata terhadap semua kendala yang dihadapi timnya. Euforia dan ekspektasi publik sepak bola memang tak bisa diatur apalagi dibendung. Dia tumbuh dari kecintaan yang teramat besar dan makin mekar seiring langkah gemilang yang ditampilkan Tim Garuda. Hal terpenting, anak-anak asuh Riedl tak terjebak pada euforia dan ekspektasi itu. Boaz cs. tak boleh terlena ataupun terbebani. Mereka harus tetap berjalan di rel yang sama dengan saat berlaga di Filipina.Saat melakoni tiga laga di penyisihan grup, kunci utama Boaz dkk. adalah bermain lepas, tanpa beban. Mereka tak down meski sempat berada di ujung tanduk dan tertinggal lebih dulu pada laga pamungkas yang sangat krusial. Mereka hanya berusaha bermain sebaik-baiknya. Itu sangat terbantu oleh para lawan yang terkesan agak meremehkan karena Indonesia baru saja lepas dari sanksi FIFA. Di semifinal, sangat penting bagi Tim Garuda untuk tetap bermain lepas seperti itu. Mereka hanya perlu fokus pada upaya tampil sebaik-baiknya, tanpa beban, dan tak terlalu memikirkan ekspektasi publik yang melambung tinggi.Lagi pula, Indonesia tak pantas disebut unggulan pada laga nanti. Patut diingat, Vietnam meraup hasil lebih baik di penyisihan grup. Status itu tak berubah meski di Stadion Pakansari, Sabtu (3/12), Vietnam adalah tim tamu. Pakansari memang kandang kita, namun itu bukan jaminan pasti untuk merebut tiga poin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya