Ironi Label Pejuang HAM Aung San Suu Kyi

Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi masih bungkam atas penderitaan etnis Rohingya di Rakhine

oleh Dini Nurilah diperbarui 01 Des 2016, 18:30 WIB
Penindasan minoritas di tanah pejuang HAM (liputan6.com/deisy)

Liputan6.com, Jakarta Kekuasaan junta militer di Myanmar telah berakhir, pemimpin pro demokrasi memenangi pemilu. Belum lagi, peraih nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi, menjadi pemimpin de facto saat ini. Partainya menguasai hingga 80% kursi parlemen.

Awalnya, dunia berharap tanah Burma yang selama puluhan tahun dikuasai tirani, akhirnya akan memulai kehidupan demokratis yang lebih baik. Salah satunya adalah perhatian pada hak asasi manusia (HAM) yang selama ini dikungkung penguasa tiran. Tapi, hingga hari ini isu HAM masih sensitif di sana, bahkan, salah satu kelompok minoritas di sana dikenal sebagai 'kelompok paling teraniaya di dunia', etnis Rohingya

Krisis etnis Rohingnya belum berakhir, sejak meledak kembali pada 2012, pertikaian di negara bagian Rakhine itu masih memanas. Terbaru, ribuan rumah mereka dibakar habis oleh militer Myanmar. Puluhan ribu Rohingnya terpaksa kabur ke Bangladesh, namun ditolak. Ratusan lainnya masih di camp-camp pengungsian, di negara tetangga Myanmar. Puluhan tewas terombang-ambing di lautan, demi mencari suaka.

Apa kabar pemimpin pembawa harapan baru, Aung San Suu Kyi? 

Foto dok. Liputan6.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya