Ini Menu Makan Pemuda Tegal Berbobot 180 Kg Saat Masih Hidup

Pemuda Tegal itu lahir dengan bobot normal, yakni 3,2 kg.

oleh Fajar Eko Nugroho diperbarui 27 Sep 2016, 15:04 WIB
Butuh 20 orang untuk mengangkut peti jenazah pemuda Tegal itu ke liang lahat. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Liputan6.com, Tegal - Wahid Zaenanda (19), warga RT 4, RW 1, Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, yang memiliki berat badan hingga 180 kg, mengembuskan napas terakhirnya pada Senin, 26 September 2016, sekitar pukul 05.30 WIB pagi.

Winarni, ibunda Wahid, menuturkan tiga bulan sebelum meninggal dunia, Wahid sudah tidak mampu berjalan. Selain bobot tubuh yang berat, sejumlah penyakit yang dideritanya membuatnya hanya bisa duduk bersandar dan berbaring menahan rasa sakit.

Ia harus makan dan mandi di dalam kamar. Menurut Winarni, selera makan anaknya tidak terkontrol sejak kecil. Padahal saat lahir, anak pertama dari lima bersaudara ini berat tubuh normal, yakni 3,2 kg.  

Pada usia 2 tahun, dokter mendiagnosis Wahid mengalami autis dan hiperaktif. Hal itulah yang membuat Winarni tidak bisa menolak permintaan Wahid untuk makan dalam jumlah besar.

"Dulu kalau tidak dituruti makan, Wahid selalu mengamuk. Bahkan membenturkan kepala ke tembok, sampai keningnya sampai menghitam seperti itu. Berat badannya sudah mencapai 180 kg," ucap Winarni.  

Dalam sehari, Wahid bisa menghabiskan telur ayam 3 kg dan sedikitnya 10 mi instan serta beberapa liter nasi. Ia mengatakan, kebiasaan makan tersebut sudah dilakoni Wahid sejak kecil hingga usia 13 tahun.  

Nafsu Makan Turun

Kendati demikian, sejak tiga bulan terakhir, Wahid mengalami sakit dan nafsu makan turun. Ada pembengkakan di perut karena sakit jantung dan infeksi kulit.  

Setiap rasa sakit datang, Wahid selalu merintih, menangis, hingga mengamuk melemparkan barang di dekatnya.  

"Selama Wahid sakit, dia tidak bisa jalan, nafsu makan Wahid turun. Sejak bulan Juli setelah Lebaran. Makan sekarang malah harus dipaksa untuk makan," kata dia.  
Winarni menceritakan, jika keberadaan Wahid sebelumnya tidak bisa diterima oleh ayahnya, Zaeni.  

"Dulu saya menghidupi sendiri anak saya. Selama 13 tahun pisah dengan suami saya karena suami saya malu. Baru setelah enam tahun terakhir, ayah Wahid datang dan membawa kami tinggal di rumah dinas ini," dia menambahkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya