Ketua MPR: Bangsa Akan Maju Jika Saling Percaya

Ketua MPR Zulkifli Hasan menyambangi Universitas Paradaban Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, dalam rangka sosialisasi Empat Pilar

oleh Nanda Perdana Putra diperbarui 14 Sep 2016, 17:37 WIB
Ketua MPR Zulkifli Hasan menyambangi Universitas Paradaban Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, dalam rangka sosialisasi Empat Pilar.

Liputan6.com, Brebes - Ketua MPR Zulkifli Hasan menyambangi Universitas Paradaban Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, dalam rangka sosialisasi Empat Pilar. Dalam kesempatan itu, dia mengajak rakyat Indonesia untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila yang mulai melemah.

Mengenakan kemeja putih dengan corak biru tua, Zulkifli disambut hangat jajaran staf universitas dan para mahasiswa yang sudah menunggu. Sejumlah hadirin yang terdiri dari anak-anak muda Brebes itu bahkan sempat histeris karena kehadiran anggota DPR Komisi X dari Fraksi PAN Lucky Hakim, yang merupakan mantan artis itu bersama Ketua MPR.

Dalam penyampaian Sosialisasi Empat Pilar MPR, Zulkifli memulai dengan komunikasi dua arah. Dia pun melontarkan pertanyaan seputar pilar pertama bangsa Indonesia yakni Pancasila kepada para mahasiswa.

Dia mencoba mencocokkan jawaban para akademisi kampus tersebut dengan jejak pendapat yang dimilikinya, berdasarkan survei yang ada. Data menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila banyak ditinggalkan warga Indonesia.

Mereka pun diminta mengangkat tangan terkait lemah atau kuatnya nilai Pancasila dalam diri masyarakat. Dari sejumlah pertanyaan, jawaban para mahasiswa cocok dengan survei tersebut.

"(Pancasila) Menguat tidak ada. Melemah angkat tangan semua," tutur Zulkifli saat sambutan Empat Pilar MPR di Universitas Peradaban Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah, Rabu (14/9/2016).

"Jejak pendapat mengatakan, hanya 4 persen sila kelima keadilan sosial yang menguat. Yang melemah 96 persen. Jadi hampir betul. Sila keempat musyawarah mufakat, hasil survei bahwa masyarakat Indonesia tinggal 1,6 persen yang musyawarah. 98,4 Persen tidak mementingkan musyawarah," lanjut dia.

Dia pun mempertanyakan saat ini entah ke mana nilai-nilai Pancasila itu. Padahal, kemajuan suatu bangsa menurutnya sangat bergantung kepada nilai kepercayaan, yang tentunya terkandung dalam Pancasila.

"Suatu bangsa akan mengalami kemajuan jika ada saling percaya. Ada trust antara masyarakat dengan pemerintah dan penegak hukum. Kita sudah punya Pancasila dan sudah hapal di luar kepala. Padahal sebenarnya harus menjadi perilaku. Sudah sedemikian indah nilai-nilai yang kita punyai," jelas Zulkifli.

Kemajuan, lanjut dia, juga akan tercapai jika kepentingan bersama dapat diutamakn di atas kepentingan individu. Tanpa semua itu, bangsa tersebut tidak dapat dikatakan sebagai negara maju.

"Itulah yang diajarkan sila kelima Pancasila. Kita harus saling mempercayai dan mengutamakan kepentingan yang lebih besar dibanding kepentingan kita sendiri," kata dia.

Kemajuan ekonomi dan budaya juga tidak kalah penting. Untuk itu, dia berharap maayarakat dapat mengamalkan sila pertama yakni dapat menjadi manusia yang disinari cahaya Ilahi dan dilindungi Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua MPR tidak lupa mengajak civitas akademika di sana, untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan ilmu ekonomi. Hal itu menjadi penting agar bangsa Indonesia tidak menjadi kuli, seperti yang pernah diperingatkan Presiden Sukarno.

"Di Tanah Air ini kita berlomba-lomba menghianati Tanah Air. Semua dinegosiasikan. Jika suatu daerah tambangnya bagus langsung dinegosiasikan. Tenaga asing menyerbu kita. Sementara kita jadi kuli di negara orang dan negeri sendiri," ujar Zulkifli.

Selain menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR, Zulkifli hadir untuk turut mengikuti peringatan 100 tahun Perguruan Ta'allumul Huda dan peresmian Masjid Alfiah Nasucha, yang berada di kompleks Universitas Peradaban Bumiayu.

Ikut hadir pula dalam acara tersebut anggota Ketua Komisi VI DPR Teguh Juwarno dan Bupati Brebes Idza Priyanti.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya