Polda Metro Siagakan 3 SSK Brimob dan Sabhara Antisipasi Banjir

Sebanyak 3 SSK Brimob dan Sabhara disiagakan Polda Metro Jaya untuk mengantisipasi banjir Jakarta.

oleh Audrey Santoso diperbarui 22 Agu 2016, 23:12 WIB
Sejumlah mobil berusaha menerobos banjir di kawasan Kemang Utara, Jakarta Selatan, Rabu (20/7). Akibat intensitas hujan deras yang mengguyur Jakarta, sejumlah ruas jalan tergenang air. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Jakarta - Hujan lebat mengguyur Ibu Kota DKI Jakarta Jumat, 19 Agustus 2016 hingga mengakibatkan banjir di beberapa daerah pemukiman warga. Guna mengantisipasi dan menanggulangi hal serupa, Polda Metro Jaya menggelar apel tanggap bencana dengan mengerahkan tiga Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob dan tiga SSK Sabhara, Senin (22/8/2016).

"270 (Personel) yang sekarang hadir, tapi yang disiagakan 3 SSK untuk Brimob dan tiga SSK untuk Sabhara. Karena fungsi inilah nanti yang bekerja keras untuk mengatasi permasalahan-permasalahan bencana termasuk bencana banjir," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Moechgiyarto menjelaskan, terjadi pergeseran potensi banjir ketika intensitas hujan tinggi. Jika biasanya pemukiman di pinggir Kali Ciliwung yang tergenang, kali ini daerah di pinggir Kali Pesanggrahan. Pihaknya pun sudah memetakan empat titik rawan banjir yaitu Petogogan, Cipinang, Pondok Labu, Pesanggrahan.

"Tadi kita dapat info banjir, jadi sudah mulai terjadi pergeseran. Yang biasanya langganan di Kali Ciliwung, sekarang alhamdulillah Kali Ciliwung itu bisa teratasi. Sehingga akhirnya bergeser ke tempat-tempat lain seperti kemarin. Di daerah-daerab itulah yang mungkin akan kita antisipasi," ujar Moechgiyarto.

Mantan Kapolda Jawa Barat ini berujar, peristiwa jebolnya Tanggul Kali Pesanggrahan menjadi pembelajaran bagi semua stakeholder, yang berarti koordinasi antar instansi harus ditingkatkan lagi. Dari pihak aparat, Moechgiyarto mengaku akan menyiagakan satu alat berat guna menanggulangi bencana tersebut.

"Tetep kita koordinasi terus dengan DKI, terutama pihak BPBD yang menanggulangi. Yang didepankan BPBD soal demikian ini. Kalau ada yang jebol, berarti harus ada kerja sama. Ya mungkin secara darurat dulu yang sebisa kita, kita bisa buat salah satunya kendaraan yang dipersiapkan manakala ada bendungan-bendungan atau tanggul jebol," tutur Moechgiyarto.

Moechgiyarto mengimbau masyarakat memahami proses evakuasi terhadap diri sendiri ketika banjir datang sehingga jika terjadi peristiwa tanggul jebol, seperti di Kali Pesanggrahan akhir pekan lalu, masyarakat tidak tenggelam dalam kepanikan. Kepada Pemerintah, Moechgiyarto berharap sistem peringatan dini bencana tersosialisasi dengan baik.

"Tidak usah panik tentunya, dan saya yakin masyarakat sekitarnya sudah paham betul mereka harus melakukan pengungsian, manakala ada banjir bandang dan seterusnya. Tentunya saya berharap ada peringatan-peringatan dini dan kita harus sosialisasikan kepada masyarakat. Manakala terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sudah siap siaga," tutup alumnus terbaik Akademi Kepolisian Semarang tahun 1986 ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya