Liputan6.com, Depok: Kontroversi terkait persoalan sensor film Bidadari Jakarta, terus bergulir. Kendati demikian, sang produser maupun sutradara tetap tak terima dengan sikap Lembaga Sensor Film (LSF) yang membuang bagian paling esensial dari film Bidadari Jakarta. Keduanya bersama sejumlah pemain pendukung pun melakukan road show untuk mensosialisasikan poin terpenting dari film Bidadari Jakarta yang disensor.
Road show yang dilakukan sang produser, Linda Rahman dan sutradara film Bidadari Jakarta, Nanang Istiabudi, ini berlangsung di salah satu pusat perbelanjaan di Depok, Jawa Barat, Ahad (10/1).
Advertisement
Menurut Nanang, bagian yang terkena sensor itu sebenarnya tidak terlalu riskan jika tak disensor sekalipun. Nanang juga mengatakan, akibat penyensoran itu, karya filmnya menjadi tak beralur. Kekesalan atas penyensoran film Bidadari Jakarta ini juga dilontarkan Linda Rahman. Linda menyayangkan sikap LSF yang dinilainya tidak kooperatif dalam melihat realita yang ada di lingkup anak-anak jalanan.
Para pemain film Bidadari Jakarta pun merasa tak puas dengan adanya penyensoran itu. Selain itu, para pemain menilai akibat penyensoran, fakta realita yang terjadi dalam kehidupan para anak jalanan jadi terkesan ditutup-tutupi.
Kontroversi Bidadari Jakarta berawal dari dialog dengan kata-kata kotor yang terdapat dalam film itu. LSF, selaku lembaga pengontrol melakukan upaya sensor dengan memenggal dialog-dialog tersebut. Di lain pihak, pembuat film menganggap pemenggalan itu membuat pesan yang ada dalam Bidadari Jakarta menjadi tak representatif sebagai film realita.(ANS)