Liputan6.com, Sumba: Perjalanan Tim Eksis SCTV menyusuri budaya megalitik di Sumba, Nusa Tenggara Timur, belum berakhir. Tak hanya agama marapu, prosesi penguburan kaum maramba (bangsawan) menjadi bagian terbentuknya sejarah megalitik itu sendiri [baca: Jejak Megalitik di Tana Sumba].
Salah satu acara adat yang magis adalah pemakaman Umbu Nai Damu, penguasa rakyat Tabundung, Sumba. Selama puluhan tahun warga menganggap keturunan maramba sebagai raja. Kini, raja bersemayam abadi di Uma Bokul (rumah besar adat Sumba). Ia tidak baru saja wafat, melainkan sudah meninggal sejak tujuh tahun silam. Waktu itu usia Umbu Nai Damu genap 105 tahun.
Dalam tradisi marapu, setiap orang meninggal tidak langsung dikubur. Mereka harus menunggu seluruh persyaratan pemakaman terpenuhi. Di antaranya mengumpulkan 200 marga di pelosok Sumba untuk menghadiri prosesi penguburan. Jasad juga harus dibebat ratusan kain tenun khas Sumba dalam posisi meringkuk.
Penguburan Ratu Yuliana asal Kampung Rindi, Sumba Timur, misalnya. Perempuan keturunan maramba ini meringkuk dalam selimutan kain tenun. Tato sebagai penanda penganut marapu terukir di tubuh. Liang kubur telah disiapkan di halaman rumah keluarga. Dan, Ratu Yuliana pun siap menembus awan menuju surga.
Namun keturunan Umbu Nai Damu yang sudah modern tak lagi taat pada aturan masa lampau. Penguburan salah seorang keturunan maramba berlangsung tanpa bebatan kain. Cukup dibaringkan di peti mati.
Prosesi berlanjut di area pemakaman. Penganut marapu berkeyakinan, batu kubur merupakan jelmaan bidadari yang akan menemani perjalanan Umbu Nai Damu ke kampung para leluhur. Batu yang dimaksud adalah bongkahan besar berjenis monolit, yang diambil dari gunung. Warga biasanya menarik secara beramai-ramai. Ada juga yang memindahkannya dengan kendaraan pengangkut beban berat.
Tak mengherankan, bila Sumba disebut sebagai Tanah Seribu Batu Kubur. Era megalitikum atau zaman batu muda masih bisa dijumpai. Ketika batu penutup liang lahat merapat, dua ekor kuda dan kerbau disembelih. Dan, Umbu Nai Damu beristirahat dengan tenang.(OMI/ANS)
Salah satu acara adat yang magis adalah pemakaman Umbu Nai Damu, penguasa rakyat Tabundung, Sumba. Selama puluhan tahun warga menganggap keturunan maramba sebagai raja. Kini, raja bersemayam abadi di Uma Bokul (rumah besar adat Sumba). Ia tidak baru saja wafat, melainkan sudah meninggal sejak tujuh tahun silam. Waktu itu usia Umbu Nai Damu genap 105 tahun.
Dalam tradisi marapu, setiap orang meninggal tidak langsung dikubur. Mereka harus menunggu seluruh persyaratan pemakaman terpenuhi. Di antaranya mengumpulkan 200 marga di pelosok Sumba untuk menghadiri prosesi penguburan. Jasad juga harus dibebat ratusan kain tenun khas Sumba dalam posisi meringkuk.
Penguburan Ratu Yuliana asal Kampung Rindi, Sumba Timur, misalnya. Perempuan keturunan maramba ini meringkuk dalam selimutan kain tenun. Tato sebagai penanda penganut marapu terukir di tubuh. Liang kubur telah disiapkan di halaman rumah keluarga. Dan, Ratu Yuliana pun siap menembus awan menuju surga.
Namun keturunan Umbu Nai Damu yang sudah modern tak lagi taat pada aturan masa lampau. Penguburan salah seorang keturunan maramba berlangsung tanpa bebatan kain. Cukup dibaringkan di peti mati.
Prosesi berlanjut di area pemakaman. Penganut marapu berkeyakinan, batu kubur merupakan jelmaan bidadari yang akan menemani perjalanan Umbu Nai Damu ke kampung para leluhur. Batu yang dimaksud adalah bongkahan besar berjenis monolit, yang diambil dari gunung. Warga biasanya menarik secara beramai-ramai. Ada juga yang memindahkannya dengan kendaraan pengangkut beban berat.
Tak mengherankan, bila Sumba disebut sebagai Tanah Seribu Batu Kubur. Era megalitikum atau zaman batu muda masih bisa dijumpai. Ketika batu penutup liang lahat merapat, dua ekor kuda dan kerbau disembelih. Dan, Umbu Nai Damu beristirahat dengan tenang.(OMI/ANS)