Liputan6.com, Jakarta Mendiang Muhammad Ali dikenang sebagai salah satu petinju terbaik di dunia. Namun sebelum terjun ke dunia tinju profesional, Ali pernah menorehkan tinta emas di pentas Olimpiade 1960.
Ali masih menyandang nama Cassius Clay saat tampil di multievent empat tahunan itu. Namun tak banyak yang tahu Ali yang kala itu baru berusia 18 tahun nyaris batal bertolak ke Roma, Italia. Beberapa pekan sebelum hari H, Ali bahkan berniat mundur dari kontingen Amerika Serikat.
Advertisement
Alasannya sepele, ayah Laila Ali tersebut ternyata takut naik pesawat terbang. Dia trauma setelah penerbangan pertamanya menuju Caliornia untuk menjalani pemusatan latihan tidak berjalan mulus. Saat itu, pesawat yang ditumpanginya nyaris celaka. Sejak saat itu, Ali pun kapok naik burung besi.
Ali lalu meminta izin agar diizinkan bertolak ke Roma dengan moda transportasi lain, seperti kapal laut atau kereta api, tapi ditolak. Ali berkeras dan mengancam batal bertanding di Olimpiade.
Adalah Joe Martin, polisi yang juga pelatih tinju pertama Ali yang akhirnya mampu membujuk The Greatest agar bersedia terbang ke Roma. "Ali takut terbang. Kami memiliki penerbangan tidak mulus ke California. Jadi saat akan pergi ke Roma dia mengatakan tidak mau terbang," kata Martin.
"Kami berbicara panjang hampir tiga jam. Saya berhasil menenangkannya dan meyakinkannya kalau ia ingin menjadi juara kelas berat dunia, maka dia harus pergi ke Roma dan memenangkan Olimpiade," papar Martin dalam tayangan khusus Muhammad Ali di stasiun tv berbayar, HBO.
Beli Parasut
Meski akhirnya bersedia terbang ke Roma, Ali masih ketakutan. Sebelum naik ke pesawat, Ali menyempatkan diri membeli parasut dari toko militer dan mengenakannya sepanjang perjalanan.
Pengorbanan Ali tidak sia-sia. Setelah meraih kemenangan mudah di babak awal, Ali melaju ke final dan menantang peraih perunggu di Olimpiade empat tahun sebelumnya, Zbigniew Pietrzykowski. Ali mati-matian di final. Dia dinyatakan menang angka mutlak dan berhak menggondol medali emas.
Martin selalu punya akal untuk meyakinkan Ali. Saat pertama bertemu dengannya, Martin juga berhasil merayu pria kelahiran Louisville, Kentucky tersebut agar bersedia berlatih tinju. Kebetulan saat itu, Ali yang berusia 12 tahun baru saja kehilangan sepeda kesayangannya. Musibah ini lantas dipakai Martin untuk membujuk Ali berlatih tinju. Dia mengatakan, Ali harus mahir bertinju agar mampu menangkap dan menghajar pencuri yang menggondol sepeda BMX kesayangannya.