Menuntun Masyarakat Memahami Empat Pilar Melalui Seni Budaya

Pagelarang wayang kulit dengan lakon "Semar Mbangun Jiwo" ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR Zainut Tauhid.

oleh Liputan6Diterbitkan 28 Juli 2016, 14:23 WIB
Menuntun Masyarakat Memahami Empat Pilar Melalui Seni Budaya

Liputan6.com, Jakarta Lapangan Dekso di Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta, Rabu malam, 27 Juli 2016, berubah menjadi arena pasar malam. Kemeriahan malam itu didukung oleh cuaca yang sangat bersahabat.

Di lapangan rumput yang terletak di depan kantor Kelurahan Banjararum itu, ratusan pedagang kecil menjajakan segala macam barang dagangannya, mulai dari kebutuhan rumah tangga, segala jenis makan dan minuman, serta permainan anak-anak.

Para pedagang ini menyita hampir sepertiga lapangan rumput yang luasnya hampir satu hektar itu di Desa Banjararum itu. Di lapangan itu pula berlangsung pagelaran seni budaya tradisional wayang kulit.

"Ini jarang terjadi di sini," kata seorang pejabat kalurahan Banjararum. Para pedagang dan pengusaha main anak-anak ini memang mengikuti dalang. Artinya, di kemana dalang pentas maka para pedagang ini pun gelar dagangannya di lokasi pertunjukan wayang tersebut.

Memang pada malam itu, di lapangan Dekso diselengarakan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Seno Nugroho, dalang beken dari Bantul, DI Jogjakarta. Pegelaran wayang kulit dalam rangka sosialisasi Empat Pilar ini diselenggarakan MPR bekerja sama dengan Pemkab Kulonprogo.

Ratusan penggemar wayang kulit yang dari berbagai pelosok Kabupaten Kulonprogo berduyung menyaksi pentas ini seraya menikmati pasar malam. Mereka memenuhi tempat duduk yang disediakan, dan tidak sedikit yang duduk dan berdiri di sekeliling panggung pertunjukan.

Sejumlah anggota MPR juga hadir berbaur dengan para pejabat daerah Kabupaten Kulonprogo dan masyarakat. Mereka itu adalah Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR Drs. Zainut Tauhid Sa'adi, anggota MPR dari kelompok DPD M. Afnan Hadikusumo, anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan Drs. Idham Samawi, anggota Fraksi Partai Nasdem, Drs. H. Fadholi, anggota Fraksi Hanura Kapt. Djoni Rolindrawan. Serta hadir pula Wakil Bupati Kulonprogo Drs. Sutedjo beserta jajaran Forkompida Kulonprogo.

Pagelarang wayang kulit dengan lakon "Semar Mbangun Jiwo" ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR Zainut Tauhid ditandai dengan penyerahan tokoh wayang kepada dalang Ki Seno Nugroho.

Dalam sambutannya, Zainut Tauhid menyatakan, sadar atau tidak sejak reformasi 1998 nilai-nilai luhur berbangsa dan negara tergerus baik oleh pengaruh dari dalam maupun dari luar. Dulu, bangsa Indonesia terkenal hidup rukun, guyub, gotong royong, namun akhir-akhir cepat marah.

Contohnya, menurut Zainut Tauhid, kalah dalam Pilkada marah, karena hal-hal sepele terjadi tawuran, dan sebagainya. "Bahkan, belakangan ini banyak sekali terjadi hal-hal yang mengenaskan, seperti perkosaan yang korbannya dibunuh, dan dosen sendiri dibunuh," ungkap Zainut Tauhid.

Menurut Zainut  pagelaran wayang ini diselenggarakan agar masyarakat kembali mengingat nilai-nilai Pancasila, lalu memahami, dan melaksanakan nilai-nilai luhur berbangsa dan bernegara tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Wayang sebagai seni budaya tradisional, bukan hanya tontonan tapi juga banyak mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan tuntunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara Kepala Bagian Humas dan Hulembaga, Biro Humas MPR, Drs. Purwadi selaku ketua panitia dalam laporannya menyatakan, MPR menyelenggarakan pagelaran seni budaya ini, selain untuk menyosialisasikan Empat Pilar, juga mempunyai tujuan untuk mengapresiasi dan melestarikan seni budaya daerah.

Purwadi menunjuk contoh pagelaran seni budaya di Lampung beberapa waktu lalu. Di sana, menurut Purwadi, terdapat seni budaya asli Lampung, yaitu seni Warahan. Ternyata, waktu MPR menyelenggarakan seni Warahan ini diketahui bahwa kesenian ini sudah 20 tahun tak pernah dipentas.

Bahkan, menurut Purwadi, masyarakat Lampung sudah hampir lupa dengan seni budayanya yang satu ini. Bukan hanya wayang dan warahan, MPR juga memberi apresiasi terhadap seni budaya daerah lain, tergantung daerahnya.

(*)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya