Liputan6.com, Jakarta - Beberapa hari lalu, umat Islam memperingati Idul Fitri. Hari raya ini kerap juga disebut sebagai hari kemenangan. Itu karena muslim yang taat baru saja melewati sebuah pertempuran besar, hijad akbar melawan hawa nafsu melalui ibadah puasa selama bulan suci Ramadan.
Baca Juga
- Messi Divonis Penjara, Barcelona Semprot Pemerintah Spanyol
- Jerman Vs Prancis: Adu Kualitas Pemain Muslim
- Mourinho Bicara Potensi Duet Ibrahimovic-Rashford
Advertisement
Sepanjang Ramadan, puasa adalah ibadah yang diwajibkan. Di samping itu, ada banyak ibadah lain yang disunahkan dan dianjurkan. Sebut saja salat tarawih dan tadarus Alquran.
Tentu saja, karena tingkat keimanan dan kemampuan yang berbeda-beda, tak semua muslim bisa menunaikan semua ibadah wajib dan sunah itu dengan baik. Ada yang sangat mungkin hanya berpuasa. Ada yang baru pada tahap membenahi tarawihnya. Ada pula yang baru sanggup menambahkan khatam Alquran saja di samping puasa.
Atas dasar itu, tingkatan yang dirasakan setiap orang sebagai titik kemenangan pun berbeda-beda. Bagi beberapa orang, dapat menunaikan puasa sebulan penuh sudah merupakan kemenangan karena mungkin itulah kali pertama mereka melakukannya. Beberapa lainnya merasa meraih kemenangan saat mampu puasa sebulan penuh dan tak absen tarawih atau sanggup mengkhatamkan Alquran.
Keragaman itu juga berlaku di pentas Piala Eropa di Prancis yang akan usai pada 10 Juli nanti. Sang pemenang bukan hanya perebut trofi Henry Delaunay. Beberapa tim yang sudah terlebih dulu pulang pun bisa disebut sebagai pemenang.
Sebut saja Islandia. Tim asuhan Lars Lagerback memang disungkurkan Prancis pada perempat final dengan skor telak 2-5. Namun, kiprah mereka selama turnamen telah memikat hati banyak orang. Mereka menjadi pujaan baru. Sampai-sampai produsen jersey Islandia, Errea, kewalahan meladeni permintaan dari seluruh penjuru Eropa yang melonjak hingga 1.800 persen dari perkiraan awal.