Indahnya Suara Tadarus Penyandang Tunanetra di Kota Malang

Di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Dinas Sosial Provinsi Jatim, dari 110 penyandang tunanetra, 90 orang adalah muslim.

oleh Zainul Arifin diperbarui 09 Jun 2016, 13:45 WIB
Di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Dinas Sosial Provinsi Jatim, dari 110 penyandang tunanetra, 90 orang adalah muslim.

Liputan6.com, Malang - Bibit Mistiatun sore itu khusyuk mengaji. Suaranya lirih melantunkan ayat suci Alquran sembari jemarinya meraba Alquran Braille. Ia tak sendirian, ada puluhan rekannya penyandang tunanetra yang juga bersemangat tadarus bersama selama Ramadan tahun ini.

Bibit dan rekan-rekannya adalah penghuni Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Dinas Sosial Jawa Timur di Jalan Beringin Kota Malang. Usai salat zuhur, ia dan rekannya selalu tadarus bersama di masjid dalam kompleks UPT tersebut.

"Membacanya gampang-gampang sulit. Tapi kalau sudah biasa, insya Allah tak kesulitan mengaji dengan Alquran Braille ini," kata Bibit di Malang, Jawa Timur, Rabu (8/6/2016).

Perempuan asal Madiun ini mengaku ingin semakin lancar membaca Alquran selama Ramadan ini. Apalagi selama bulan suci ini intensitas mengaji semakin tinggi. Tidak hanya usai salat zuhur, tapi juga setelah salat subuh berjamaah masih bisa tadarus bersama dengan rekannya yang lain.

"Kalau saya membaca langsung dari Arab Braille. Ada teman harus memulai dari Latin Braille sebelum ke Arab Braille. Kalau tadarus bersama lebih nikmat karena bisa belajar bersama," ucap Bibit yang sudah masuk kategori kelas kejuruan ini.

Jamal, seorang tunanetra asal Bondowoso, Jawa Timur, mengaku baru tiga bulan ini belajar di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Dinas Sosial Jawa Timur. Ia pun harus belajar mengaji dengan memulai membaca Latin Braille dahulu sebelum ke Arab Braille.

"Saya masih kelas A, jadi belajar membacanya ya harus dari Latin dulu. Tapi dengan tadarus bersama ini bisa mempercepat belajar saya," ucap Jamal.

Di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Dinas Sosial Provinsi Jatim ini ada 110 penyandang tunanetra yang 90 orang di antaranya adalah muslim. Proses belajar mereka dibagi menjadi sejumlah kelas dengan kelas kejuruan adalah yang tertinggi. Di kelas terakhir ini, belajar membaca Arab Braille dilakukan setiap pekan sekali.

Yani Soeswantoro, staf pengajar Arab Braille mengatakan, tadarusan menjadi kegiatan rutin para penghuni tempat rehabilitasi terutama usai salat subuh dan zuhur.

"Karena mereka masih mendapatkan materi pembelajaran lainnya. Jadi, tadarus ini untuk memotivasi mereka agar semakin giat belajar, terutama mengaji Alquran Braille," kata Yani.

Para penghuni tempat rehabilitasi ini juga mendapat materi orientasi mobilitas cara berjalan yang benar dan materi aktivitas menjalani kehidupan sehari-hari. Harapannya, mereka mampu hidup mandiri dan bisa berkarya setelah merampungkan proses belajar di tempat rehabilitasi ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya