Liputan6.com, Jakarta Oberwil-Lieli adalah salah satu desa paling kaya di Eropa yang memiliki 300 miliuner di antara 2200 populasi penduduknya. Desa kaya yang terletak di Swiss ini memilih untuk membayar denda sebesar 200 ribu euro atau sekitar 33 juta rupiah daripada menerima 10 orang pengungsi.
Baca Juga
- Warga Desa India Tanam 111 Pohon Tiap Seorang Bayi Lahir
- Desa Tanpa Jalan Raya Gunakan Kanal Sebagai Transportasi
- Wow, Semua Penduduk Desa Ini Hidup Tanpa Pakaian
Advertisement
Swiss memiliki kuota wajib sebanyak 10 orang pengungsi yang harus diterima, namun penduduk di desa Oberwiel-Lieli memilih untuk menolak para pengungsi tersebut. Pemerintah Swiss telah mengusulkan sistem kuota di 26 kabupaten dalam rangka memenuhi janjinya untuk menerima 50 ribu pencari suaka di negara tersebut. Namun Desa Oberwil-Lieli, menolak pengungsi dengan perbandingan 52 sampai 48 persen.
Menurut berita yang dilansir dari Metro.co.uk pada Rabu (1/6/2016), para penduduk menolak karena mereka telah bekerja keras untuk bisa hidup di daerah yang terkenal mahal tersebut dan tak ingin para pengungsi untuk merusaknya. "Desa ini tidak cocok untuk menerima pengungsi," salah satu penduduk menuturkan.
Pemilihan suara yang dilakukan di desa Oberwiel-Lieli telah membagi daerah tersebut menjadi dua, dimana banyak yang menyebut para penduduk yang menolak pengungsi sebagai orang-orang rasis. Seorang ibu dengan anak dua yang juga tinggal di desa ini menyampaikan, "Sudah seharusnya kita membantu orang-orang yang kurang beruntung. Menolak pengungsi membuat desa ini terlihat tidak peduli terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri."
Namun Andreas Glarner, walikota desa Oberwiel-Lieli, membantah tuduhan bahwa penduduknya rasis. Andreas Glarner berpendapat bahwa mereka lebih baik mengirimkan bantuan berupa uang, karena jika mereka menerima para pengungsi untuk tinggal di Oberwiel-Lieli, maka tindakan tersebut dapat mengirimkan pesan yang salah. "Kami tidak tahu dari mana pengungsi ini berasal, apakah dari Syria atau imigran dari negara lain. Jika kami menerima para pengungsi, maka akan ada resiko dimana pengungsi lain akan membahayakan nyawa mereka untuk juga bisa hidup di sini, bahkan membayar orang untuk menyelundupkan mereka." Selain itu, Andreas juga menyebutkan bahwa bahasa juga bisa jadi masalah dalam hal komunikasi.
Desa