Kisah Tragis Yuyun dan 'Horor' Tragedi Kejahatan Seksual di India

Kejadian tragis yang menimpa Yuyun menimbulkan keprihatinan. Mengingatkan pada kasus serupa di India pada akhir 2012.

oleh Tanti Yulianingsih diperbarui 04 Mei 2016, 12:18 WIB
Aksi simpati untuk Yuyun, korban meninggal kekerasan seksual terus mengalir.

Liputan6.com, Jakarta - Yuyun baru berusia 14 tahun saat mimpi dan nyawanya direnggut paksa sepulang dari sekolah. Siswi SMP asal Bengkulu itu menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan 14 pemuda tanggung, bahkan ada yang masih "bau kencur". Keempat belas ABG ini berubah jadi bengis dan bejat di bawah pengaruh alkohol.

Namun, kepergian Yuyun tak akan sia-sia. Ia menjadi pelecut yang membangkitkan keprihatinan, amarah, kemudian tekad untuk berkata lantang, "Cukup!" terhadap kekerasan seksual yang terjadi di Tanah Air.

Para aktivis Aliansi Masyarakat Peduli Korban Kekerasan Seksual menjadikan kasus Yuyun sebagai awal dari gerakan melawan kekerasan seksual di Indonesia.

Kejadian tragis itu pun kembali menyadarkan masyarakat bahwa siapa pun bisa jadi korban dan tak ada cara lain untuk menghentikan kekerasan seksual, kecuali melawan dengan tindakan.

Petang nanti, Rabu, 4 Mei 2016, lilin-lilin kecil akan dinyalakan, doa akan dikirimkan pada jiwa suci yang telah berpulang.

"Kita juga mengimbau kepada semua masyarakat, khususnya yang hadir saat aksi, untuk menyalakan klakson, sebagai bentuk tanda bahaya kekerasan terhadap perempuan," ucap anggota Komite Aksi Perempuan (KAP) Estu Fanani.

Bentakan klakson tak hanya sekedar gaduh, namun mewakili simbol bahaya kekerasan terhadap perempuan, yang tak semua terangkat ke permukaan. Situasi di Indonesia kini sudah bisa dibilang gawat. 

Kemarahan yang menggelora di dada masyarakat Indonesia juga dirasakan warga India akhir 2012 lalu.

Kekerasan seksual terhadap seorang gadis calon dokter di atas bus kota di New Delhi pada Desember 2012 menjadi luka bersama seluruh masyarakat Negeri Gangga.

Kala itu, tak ada pesta pora menyambut tahun baru 2013 di India. Hampir semua perayaan dibatalkan. Angkatan bersenjata juga membatalkan perayaan resmi yang sebelumnya direncanakan digelar di negara bagian Punjab dan Haryana. Seluruh India larut dalam perkabungan.

 

Tak ada ampun bagi pelaku pemerkosaan di India. Vonis digantung sampai mati harus dijatuhkan.

Protes besar-besaran digelar di ibukota New Delhi, juga seluruh India, menuntut penegakan hukum yang tegas untuk melindungi kaum hawa.

Bahkan, pada pidato perdananya sebagai perdana menteri dalam Hari Kemerdekaan yang ke-68 pada 15 Agustus 2014,  Narendra Modi, mengatakan wajah negerinya dicoreng oleh serangkaian kasus pemerkosaan. Ia mengatakan wajah negerinya dicoreng oleh serangkaian kasus pemerkosaan.

 

Pemimpin oposisi Narendra Modi yang akan menggantikan Manmohan Sing sebagai PM India (Coolage.in)

 

Memang, kasus pemerkosaan masih terjadi di India hingga saat ini. Namun, setidaknya rakyat telah memberi perlawanan.

Sejumlah perubahan pun dilakukan ke arah yang lebih baik. Selain di bidang hukum, juga ada di ranah teknologi. Mulai 2017 semua ponsel di India dilengkapi tombol panik (panic button) dan GPS untuk melawan kekerasan terhadap perempuan.

Seperti halnya kasus di India yang mendunia, tragedi Yuyun juga menjadi keprihatinan penduduk Bumi.

Sejumlah media asing memberitakan kejadian tragis itu. Salah satunya, media Amerika Serikat, New York Times.

Dalam artikel bertajuk "Gang Rape, Murder of Indonesian Girl Sparks Call for Reform", mereka memberitakan pemerkosaan dan pembunuhan gadis malang itu dan mendesak pemerintah Indonesia memberlakukan hukum kekerasan seksual.

Semoga, kejadian tragis yang menimpa Yuyun menjadi momentum untuk hal yang lebih baik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya