Liputan6.com, Jambi: Kian dangkalnya perairan laut dan Sungai Batang Hari, Jambi dalam kurun waktu tiga tahun belakangan, menyebabkan terjadinya abrasi pantai di kawasan Cagar Alam Pantai Timur Sumatra. Untuk itu, saat ini, Pemerintah Daerah setempat tengah berupaya memberdayakan masyarakat yang tinggal di Pulau Tengah, Pulau Watambi, dan Pulau Timur untuk membuat pagar dari gundukan tanah. Namun, agaknya upaya tersebut tak maksimal. Sebab, setiap tahun, puluhan hektare lahan tetap saja hilang ditelan abrasi. Hal tersebut diungkapkan Kepala Konservasi dan Sumber Daya Alam Jambi Agus Priambudi di Jambi, baru-baru ini.
Agus khwatir jika kondisi tersebut tak segera diatasi, bakal merusak kawasan cagar alam di sekitarnya. Soalnya, tambah dia, semula, kawasan Cagar Alam Pantai Timur Sumatra yang terletak di Kabupaten Tanjungjabung Timur Jambi itu memiliki luas 6.500 hektare. Namun, setelah diukur kembali beberapa bulan silam, ternyata kawasan itu menyusut menjadi 3.200 hektare. Setelah diteliti, penyebab penyempitan lahan itu terjadi karena sebagian kawasan ditetapkan sebagai lokasi enclave atau daerah kantong yang boleh dihuni sejumlah penduduk asal Bugis, yang juga direlokasi lantaran pengikisan pantai. Sayangnya, Agus tak merinci luas tanah yang dipakai untuk enclave tersebut.
Anehnya, sejumlah lembaga swadaya masyarakat baik yang ada di Jambi maupun daerah lain belum ada yang melirik kawasan tersebut. Padahal, kawasan tersebut dinilai amat vital untuk melestarikan ekosistem di wilayah Sumatra.(TNA/Suhatman Pisang)
Agus khwatir jika kondisi tersebut tak segera diatasi, bakal merusak kawasan cagar alam di sekitarnya. Soalnya, tambah dia, semula, kawasan Cagar Alam Pantai Timur Sumatra yang terletak di Kabupaten Tanjungjabung Timur Jambi itu memiliki luas 6.500 hektare. Namun, setelah diukur kembali beberapa bulan silam, ternyata kawasan itu menyusut menjadi 3.200 hektare. Setelah diteliti, penyebab penyempitan lahan itu terjadi karena sebagian kawasan ditetapkan sebagai lokasi enclave atau daerah kantong yang boleh dihuni sejumlah penduduk asal Bugis, yang juga direlokasi lantaran pengikisan pantai. Sayangnya, Agus tak merinci luas tanah yang dipakai untuk enclave tersebut.
Anehnya, sejumlah lembaga swadaya masyarakat baik yang ada di Jambi maupun daerah lain belum ada yang melirik kawasan tersebut. Padahal, kawasan tersebut dinilai amat vital untuk melestarikan ekosistem di wilayah Sumatra.(TNA/Suhatman Pisang)