Pajang 19 Foto Musuh, Ranieri Sempat Ajak Bicara Gambar Mourinho

Ranieri punya cara unik untuk melecut motivasi diri. Dia memajang 19 foto manajer Premier League di ruang kerjanya.

oleh Rejdo PrahanandaDiterbitkan 15 April 2016, 06:30 WIB
Ekspresi pelatih Claudio Ranieri setelah membawa Leicester City menang 1-0 melawan Southampton di King Power Stadium, Minggu (3/4/2016). (EPA/Peter Powell)

Liputan6.com, Leicester - Nama Claudio Ranieri meroket. Keberhasilan pelatih asal Italia itu mendongkrak prestasi Leicester City musim ini membuat dongeng menjadi nyata. Trofi lambang supremasi sepak bola di Inggris sudah di depan mata The Foxes. Mereka siap-siap menuliskan sejarah baru di kancah Premier League.

Ranieri, pelatih 63 tahun ini sempat terpuruk. Dua tahun lalu, mantan pemain AS Roma ini ditendang kampiun Piala Eropa 2004, Yunani lantaran tidak pernah memetik kemenangan. Dalam 4 pertandingan, Ranieri menorehkan rapor tiga kali kalah dan sekali imbang. Yunani bahkan kalah dari Kepulauan Faroe. Tim yang terakhir kali menang di pertandingan kompetitif FIFA pada 2011 lalu. Wajar kalau keputusan Leicester  menunjuknya sebagai manajer Leicester menggantikan Nigel Pearson menuai reaksi negatif.

Baca Juga

  • Kejutan, Marcus / Kevin Singkirkan Juara Dunia di Singapore Open
  • Top Scorer Divisi Dua Liga Australia Bakal Trial di Arema
  • 5 Pemain Bintang Ini Sama-sama Jebolan Klub Semenjana Prancis

Mantan striker Leicester, Gary Lineker terang-terangan menolak ide manajemen Leicester menunjuk Ranieri sebagai pelatih baru The Foxes. Terlebih, bila mengurut prestasinya yang pas-pasan di negara asalnya, Italia. Tidak ada prestasi menonojol yang dibuat Ranieri di kampung halaman. Tercatat, dia hanya sekali mengantarkan Fiorentina juara Serie B musim 1993-94. Meski demikian, Ranieri tidak kehilangan job; dia sempat menukangi tim-tim besar. Juventus dan AS Roma pernah merasakan sentuhan Ranieri.

Claudio Ranieri

Masa suram Ranieri menjadi pelatih mungkin ketika dia dipecat Chelsea, 12 tahun lalu atau tepatnya 2004. Kerja sama yang terjalin bersama The Blues yang terjalin selama 4 tahun harus berakhir. Posisi Ranieri kemudian digantikan rival utama, Jose Mourinho. Di kemudian hari, kedua pelatih tersebut sempat bertemu di Italia dalam kurun waktu 2008 hingga 2010. Ketika itu, Ranieri menangani AS Roma dan Juventus, sedangkan Mourinho membesut Inter Milan.

Lanjut Baca:

Kepada Daily Mail, Ranieri membuka kisah lama bersama Chelsea. Tim Ibukota Inggris ini harus menyerahkan trofi juara kepada Arsenal yang tidak terkalahkan di musim 2003/04. Sejauh itu, tidak ada masalah. Tapi, Ranieri mengerti Roman Abramovich, pemilik baru Chelsea ingin mengubah banyak hal. Dia ingin merekrut Sven Goran Eriksson. Tapi batal. Abramovich lantas mengatakan,"OK Claudio, silahkan lanjutkan pekerjaan Anda," ucap Ranieri menirukan pesan Abramovich. "Tapi saya tahu, pekerjaan saya di Chelsea akan selesai." Benar saja, Ranieri harus meninggalkan Chelsea "Didepak dari tim hal yang biasa terjadi." Julukan Thinkerman, merupakan sindiran dari media-media Inggris. Pasalnya, Ranieri selalu kesulitan mencari komposisi pemain terbaik. Bila melakukan rotasi, keputusan si manajer masih jauh dari harapan; bahkan cenderung salah. Hal itu dianggap menjadi biang kegagalan Chelsea merebut trofi selama empat tahun ditangani Ranieri. Terlepas dari rangkaian kegagalan di masa lalu, Ranieri kini menjelma menjadi pelatih papan atas Inggris. Leicester kini kokoh di puncak klasemen di sisa tujuh pekan lagi. Beragam motivasi didapat Ranieri untuk mengangkat performa Leicester. Salah satunya, memajang foto-foto 19 manajer Premier League, termasuk gambar sang rival, Mourinho. Deretan foto-foto manajer tersebut dipajang di ruang kerja Ranieri di King Power Stadium. Dari 19 pelatih, Ranieri menatap mengaku menatap tajam foto Mourinho seraya berkata,"Jose Mourinho orang pertama yang saya ajak bicara pertama kali (melalui foto tersebut). Saya mengucapkan, selamat datang lagi Claudio," kata Ranieri. "Dia anak yang baik." Prestasi kedua pelatih kini berbanding terbalik. Mourinho dipecat Chelsea oleh Abramovich. Sedangkan, Ranieri duduk nyaman di kursi pelatih Leicester. Gelar juara Premier League sudah di depan mata pelatih berkacamata ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya