BI Waspada Adanya Fenomena Super Dolar

‎Hal ini bakal dipicu rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan menaikan tingkat suku bungannya (Fed fund rate) secara bertahap.

oleh Septian Deny diperbarui 27 Jan 2016, 19:53 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memberikan keterangan pada wartawan usai pertemuan dengan Presiden Finlandia Sauli Niinisto, Jakarta (4/11). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) berharap para pelaku usaha di dalam negeri waspada akan adanya potensi periode super dolar yang akan berlangsung hingga tiga tahun ke depan. ‎Hal ini bakal dipicu rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan menaikan tingkat suku bungannya (Fed fund rate) secara bertahap.

Gubernur BI Agus Martowadojo mengatakan apalagi, potensi kenaikan Fed fund rate ini juga akan diiringi oleh perbaikan kondisi ekonomi di negeri paman sam tersebut.

"Kayak kemarin, consumer confidentnya menunjukan nilai membaik membuat AS akan makin kuat kursnya," ujarnyta di Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Agus menjelaskan, periode super dolar ini tidak hanya akan memberikan dampak bagi Indonesia, tetapi juga kepada seluruh negara berkembang. Oleh sebab itu, agar tidak membawa dampak negatif bagi perekonomian, maka perlu kewaspadaan dari para pelaku usaha.

"Dunia perlu khawatir kalau ada risiko rebalancing portfolio. Apakah akan dikeluarkan untuk investasi di AS," kata dia.

Oleh karena itu, Agus meminta korporasi di dalam negeri untuk melakukan kebijakan lindung nilai atau hedging sebagai bentuk antisipasi dari penguatan dolar Amerika Serikat ini.

"Ini kami waspadai kalau ada super dolar. Tapi saya setiap bulan selalu melakukan kajian kepatuhan perusahaan swasta terhadap kebijakan BI yakni kewajiban hedging (lindung nilai). Kami dorong korporasi yang punya utang luar negeri untuk mengatur resiko utangnya saat jatuh waktu pinjaman," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya