Ibu dan 2 Anak Diduga Pengikut Gafatar di Garut Ditemukan

Sebelum menghilang, Winarti dan 2 anaknya izin kepada suaminya pergi ke dokter.

oleh Liputan6 diperbarui 18 Jan 2016, 12:20 WIB
Gafatar lagi heboh banget diomongin. Organisasi ini diyakini aliran sesat. Kenali ciri-cirinya biar kamu gak terjebak.

Liputan6.com, Bandung - Heriyadi Atmajaya, seorang suami yang sempat ditinggalkan istri dan 2 anaknya yang diduga menjadi pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), kini dapat tersenyum bahagia.

Sebab, istri dan 2 buah hatinya yang diduga bergabung dengan Gafatar sejak Agustus 2014, sudah kembali ke rumah sejak menghilang 29 Desember 2015 lalu.

"Istri dan 2 anak saya pergi meninggalkan rumah pada 28 Desember 2015. Saya sedang di kamar mandi ketika itu, isteri saya hanya mengatakan dia akan membawa anak saya ke dokter," kata Heriyadi seperti dilansir Antara, Senin (18/1/2016).

Heriyadi menduga istri dan kedua anaknya bergabung kelompok Gafatar. Dugaan itu didasarkan sejumlah bukti tertulis berupa buku harian milik sang istri, Winarti, yang ditemukan di rumahnya.

Menurut pria 44 itu, Winarti dan anak-anaknya tidak pernah terbuka menyangkut niat meninggalkan rumah.

"Mereka diam-diam saja, termasuk jika akan mengikuti semacam kegiatan pengajian," kata Heriyadi.


Sementara, Linda Ibrahim, kakak ipar Winarti menyebutkan, Winarti dan 2 anaknya, Sri Putri Rahma (18) dan Andi Permana (10) kembali ke keluarga besarnya pada Jumat, 15 Januari 2016 lalu.

"Iya benar. Alhamdulillah, sudah kembali sejak Jumat malam," kata dia saat dikonfirmasi.

Namun, Linda belum bisa berkomentar banyak mengenai kabar kepulangan adik ipar dan 2 keponakannya itu. "Saya ini masih di kantor polisi, ini sedang memberikan keterangan tambahan ke polisi," ujar dia.

Polda Jawa Barat sebelumnya telah menerima laporan hilangnya sejumlah orang, yang diduga kuat bergabung Gafatar yang serupa dengan kasus hilangnya dokter Rica di Yogyakarta.

Heriyadi melaporkan kasus kehilangan istri dan 2 anaknya ke Polres Garut, namun dia kemudian diminta melapor ke Mabes Polri, yang kemudian diminta menghubungi Polda Jawa Barat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya