Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mampu menguat di awal perdagangan pada Selasa pekan ini. Namun penguatan tersebut terbatas karena tekanan sentimen dari luar.
Mengutip Bloomberg, Selasa (12/1/2016), pada perdagangan pagi tadi rupiah sempat ke level 13.825 per dolar AS, menguat jika dibanding dengan pembukaan yang ada di level 13.898 per dolar AS. Namun menjelang siang, rupiah kembali melemah ke kisaran 13.875 per dolar AS.
Pada perdagangan dari pagi hingga siang hari ini, rupiah ada di kisaran 13.813 per dolar AS hingga 13.898 per dolar AS. Jika dilihat dari awal tahun, rupiah telah melemah 0,63 persen.
Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) rupiah mampu menguat ke level 13.835 per dolar AS dari perdagangan sehari sebelumnya yang ada di level 13.935 per dolar AS.
Baca Juga
- Tekanan Masih Tinggi, Rupiah Bertahan di Rp 13.900 per Dolar AS
- Ini Penyebab Rupiah Terombang-ambing
- Rupiah Masih Betah di Level 13.900 per Dolar AS
Advertisement
Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta menjelaskan, di menjelang akhir perdagangan kemarin, Senin (11/1/2016), rupiah mampu menguat karena adanya sentimen positif dari dalam negeri.
Survei Penjualan Eceran yang dilakukan oleh Bank Indonesia mencatat bahwa penjualan eceran pada Desember 2015 kemarin meningkat ke 10,2 persen (Year on Year) dari 8,7 persen (Year on Year) pada November 2015.
Positifnya data penjualan enceran tersebut menambah sentimen positif yang telah ada seperti realisasi inflasi sepanjang 2015 yang mampu berada di level 3,35 persen.
"Sentimen positif tersebut hanya mampu bertahan sampai pagi ini karena pelaku pasar melihat adanya risiko dari China." jelasnya.
Analis Pasar Uang HSBC New York, Daragh Maher menjelaskan, ada banyak sentimen yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar saat ini. Sebagian besar pelaku pasar saat ini sedang menyelamatkan dananya dengan mengoleksi dolar AS yang membuat mata uang lainnya melemah.
Beberapa risiko yang ada saat ini adalah ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, penurunan harga minyak yang mencapai level US$ 31,41 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga minyak tersebut mendorong ke level terendah sejak 5 Desember 2003.
Selain itu, kondisi China juga menjadi ketakutan tersendiri bagi investor. "Saat ini lebih baik pelaku pasar bermain aman," jelasnya. (Gdn/Ahm)
**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini
**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6