China Seret Bursa Asia ke Level Terendah Sejak 2011

Indeks saham Shanghai turun 4,47 persen dan indeks saham Shenzhen melemah 6 persen di awal pekan ini.

oleh Agustina Melani diperbarui 11 Jan 2016, 16:10 WIB
Orang tercermin dalam papan yang menampilkan rata-rata Nikkei di Tokyo, Jepang, Jumat, (10/7/ 2015). Nikkei adalah indeks pasar saham untuk Bursa Saham Tokyo. (REUTERS/Thomas Peter)

Liputan6.com, Shanghai - Bursa saham China melanjutkan penurunan di awal pekan ini sehingga menyeret bursa saham Asia tertekan.

Indeks saham Shanghai turun 4,47 persen. Indeks saham Shenzhen melemah 6 persen. Indeks saham Hong Kong Hang Seng merosot 2,24 persen di awal pekan ini sehingga berada di bawah level 20.000 untuk pertama kalinya sejak Juni 2013.

Tekanan bursa saham China itu dapat memicu penghentian sementara perdagangan saham. Mengingat sistem perdagangan di bursa China dirancang bila indeks saham acuan CSI 300 turun lima persen akan dihentikan sementara. Jika indeks saham acuan jatuh dan naik 7 persen maka akan dihentikan sementara selama sisa perdagangan saham.

Pelemahan bursa saham China tersebut juga menyeret bursa saham Asia mencatatkan level terendah lebih dari empat tahun seiring kekhawatiran terhadap prospek China berlanjut. Hal itu memicu aksi jual di bursa saham Asia.

Indeks saham MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 2,1 persen ke level 374,20 pada pukul 09.44 waktu Hong Kong. Level itu terendah sejak 2011. Indeks saham Australia/ASX 200 melemah 1,9 persen. Indeks saham Selandia Baru merosot 0,9 persen.

Diikuti indeks saham Korea Selatan/Kospi turun 0,9 persen. Indeks saham Hong Kong Hang Seng merosot 2,5 persen. Indeks saham Singapura turun 1,9 persen dan indeks saham Taiwan susut 1,8 persen. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,84 persen.

Gejolak di pasar China telah berdampak ke global dalam pekan pertama 2016. Hal itu seiring penghentian sementara perdagangan saham dan bank sentral China menetapkan yuan di level terendah dalam delapan hari. Hal itu meningkatkan kekhawatiran terhadap perang mata uang global.

"Pasar khawatir tentang stabilitas keuangan China. Investor mencari tahu bagaimana visi ke depan soal rezim devisa baru bekerja," ujar Matthew Sherwood, Analis Perpetual Ltd seperti dikutip dari laman Bloomberg, Senin (11/1/2016). (Ahm/Igw)

 

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya