Sang Penata Bunga itu Jadi Penebar Maut

Ibrohim dikenal sebagai pria yang baik oleh kerabat dan juga para tetangga di lingkungan tempat tinggalnya. Namun setelah kasus bom yang menimpa dua hotel mewah di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, JW Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli silam, dan namanya dikaitkan-kaitkan, membuat kerabat dan para tetangga bertanya-tanya sulit percaya.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 Agustus 2009, 18:23 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Ibrohim alias Ibrahim alias Boim (37) sang penata bunga itu ternyata juga penebar maut. Sepak terjangnya kini telah melambungkan namanya. Menurut penjelasan Polri, Ibrohim yang bekerja sebagai florist atau penata bunga di hotel JW Marriott berperan penting sebagai pengamat, perencana, pengatur, dan penentu pengeboman di Marriott dan Ritz Carlton.

Ibrohim dikenal sebagai pria yang baik oleh kerabat dan juga para tetangga di lingkungan tempat tinggalnya. Namun setelah kasus bom yang menimpa dua hotel mewah di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, JW Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli silam, dan namanya dikaitkan-kaitkan, membuat kerabat dan para tetangga bertanya-tanya sulit percaya.

Kampung halaman Ibrohim sebenarnya di Desa Sampora, Blok Kliwon, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Setelah menikah dengan Sucihati yang akrab dipanggil Uchi, mereka pun kemudian memutuskan untuk tinggal di Depok Jawa Barat. Ibrohim-Uchi hanya setahun tinggal di Depok dari 1995-96. Pasangan Ibrohim-Sucihati dikaruniai dua anak, sepasang laki-laki dan perempuan.

Ibrohim mengawali kariernya di Jakarta sejak ia menikahi Uchi. Beberapa kali mengalami pindah tempat kerja, akhirnya Boim pun betah kerja di Chintya Florist sebagai penata bunga. Sekitar empat tahun, Ibrohim bergabung di perusahaan ini. Boim pun lalu ditempatkan di Marriott dan Ritz Carlton yang merupakan klien Chintya Florist. 

Ibrohim ternyata pandai menyimpan rahasia dan perilaku aslinya. Menurut catatan Kepolisian, Ibrohim telah direkrut kelompok Jamaah Islamiyah sejak tahun 2000. Sejak itulah, Boim aktif melakukan pertemuan-pertemuan kelompok. Termasuk ikut dalam berbagai pertemuan dengan kelompok jaringan Noordin M Top menjelang pelaksanaan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Jumat (17/7) lalu, yang mengakibatkan enam orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Sejak bom bunuh diri meledak di Kawasan Mega Kuningan itu, Boim pun menghilang. Namun polisi mencium keterlibatan pria penata bunga itu.

Setelah 26 hari menghilang, barulah kabar Ibrohim terungkap. Dalam keterangan persnya, Rabu (12/8), Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna mengumumkan bahwa jenazah misterius yang tewas dalam penyerbuan di Temanggung adalah Ibrohim alias Boim si penata bunga.

Bukti-bukti keterlibatan Ibrohim dalam peledakan bom di Marriott dan Ritz Carlton pun diurai di depan publik. Maka sulit terbantahkan, sepak terjang sang penata bunga itu dalam terlibat dalam aksi terorisme jaringan Noordin M Top. Bahkan terungkap pula, Ibrohim sempat menuliskan testimoni bahwa dirinya bersedia menjadi pelaku bom bunuh diri berikutnya. Polisi menyebutkan akan ada aktivitas pengeboman yang targetnya adalah kepala negara. Dalam pengakuan seorang teroris yang telah tertangkap, Ibrohim akan melakukan bom bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil ke iring-iringan kendaraan presiden. Pengakuan yang sangat mencengangkan dan bahkan sulit dipercaya.

Ibrohim si penata bunga berubah menjadi orang yang paling dicari polisi. Pengejaran terus dilakukan hingga akhirnya terjadi penggerebekan terhadap rumah di dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung. Pengepungan selama 18 jam itu berakhir dengan terbunuhnya Boim.

Kematian Ibrohim meninggalkan duka yang amat dalam bagi kerabat, keluarga, istri dan anak-anaknya. Mereka semua tak pernah menduga. Orang yang dikenal lembut pada anak-anak dan keluarganya, ternyata menyimpan kekejian. Cerita sang penata bunga pun akhirnya berujung di Temanggung.(VIN)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya