Batik Semarang Dapat Penghargaan Paramakarya dari Presiden

Dalam sepuluh tahun terakhir, motif batik Semarang terus berkembang dan tercipta berbagai motif baru.

oleh Edhie Prayitno Ige diperbarui 26 Nov 2015, 20:04 WIB
Batik Semarang dapat penghargaan Paramakarya dari Presiden Jokowi.

Liputan6.com, Jakarta Keberadaan batik dengan motif khas Semarang semakin mendapat pengakuan. Kali ini penghargaan Paramakarya dari Presiden Joko Widodo dianugerahkan kepada Sanggar Batik Semarang 16. Sayangnya, ketika daerah lain mendapat pendampingan dari kepala daerah sebagai bentuk dukungan, Sanggar Batik Semarang 16 berangkat sendiri.

Motif Batik khas Semarang sendiri terus berkembang dalam sepuluh tahun terakhir. Batik Semarang 16 yang didirikan sejak 2004 silam kini sudah memiliki motif orisinil ciptaan mereka sendiri dan terdaftar di HAKI. Keberanian mencipta motif sendiri dan mengembangkannya, tak lepas dari garis kesejarahan yang kuat.

Terungkap dalam penelitian sejarawan Universitas Diponegoro Dewi Juliati, eksistensi Semarang dalam peta perbatikan ditandai adanya kampung kuno, bernama Kampung Batik.

"Dalam penelitian saya, Kampung Batik itu dulunya menjadi pusat produksi batik sejak jaman kerajaan. Namun tradisi membatik itu hilang bersama pembumihangusan sentra ekonomi Semarang oleh Jepang," kata Dewi saat ditemui Liputan6.com, Selasa (24/11/2015).

Batik Semarang 16 mendapat penghargaan Paramakarya 2015 dari presiden setelah bermetamorfosis dari kegelisahan individu Umi S Adisusilo menjadi sebuah bola salju kreativitas yang menular, dan menjadikan daerah-daerah lain terdorong menggali motif khas mereka sendiri.

Menurut Umi S Adisusilo, awalnya pendirian sanggar itu memang dimaksudkan agar tradisi membatik lebih membumi. Bukan hanya mengenakan pakaian batik, namun juga memproduksi.

"Sebelas tahun kami berupaya mandiri. Pernah mendapat support saat walikota Semarang dijabat bapak Sukawi Sutarip. Saat itu support pemerintah menghebat," kata Umi usai menerima penghargaan.

Penghargaan kinerja terbaik berupa anugerah Paramakarya itu tak lepas dari dukungan budayawan, seniman wartawan, hingga mahasiswa. Dari mereka pemikiran orisinalitas motif dapat tertuang dalam kain batik khas Semarang.

Bermodalkan lebih dari 800 motif orisinil yang sudah didaftarkan HAKI, sanggar yang kini membesar dan menjadi salah satu tempat tujuan wisata ini tetap dengan jatidirinya, yaitu mandiri dan tak mau tergantung dengan pemerintah.

"Kami seakan tak peduli dengan dukungan pemerintah. Saat ini kami sedang merintis workshop di semua kelurahan agar Semarang memiliki pecanting-pecanting hebat," kata Umi.

Riset seperti apa yang dikembangkan sanggar ini? Untuk mencipta motif, biasanya para desainer mempelajari terlebih dulu hal-hal yang sesuai tema. Misalnya tentang legenda kampung-kampung di Semarang. Kemudian mereka mencari sejarah munculnya legenda kampung tersebut.

Hasil motif itu kemudian dibawa ke rapat besar, untuk mendapatkan masukan ataupun evaluasi. Setelah itu, jika disetujui motif akan masuk ke tahap produksi. (Edhie Prayitno Ige/Ibo)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya