Liputan6.com, Jakarta Di bioskop kita baru saja turun layar film anyar yang dibintangi Keanu Reeves, Knock Knock. Saya tak sempat menontonnya, namun kawan-kawan yang menonton filmnya mengatakan kecewa berat usai nonton film tersebut.
Sebagai yang sering menulis ulasan film baik di media sosial pribadi maupun di situs ini, saya kerap ditanya kawan-kawan begini: "Mas, sudah nonton Knock Knock belum?"
Advertisement
Saya tentu saja jawab belum, karena memang belum menonton. Saya juga sekalian bilang tak berniat nonton. Para kawan, yang artinya lebih dari satu, biasanya lalu bilang, "Mending jangan, mas. Filmnya jelek."
Ya, bukan satu-dua orang yang bilang kecewa berat setelah nonton Knock Knock. Saya ingat, seorang kawan menulis di akun Path-nya belum lama ini, "Wtf, Keanu ngapain main di film kek gini."
Hm, dari yang saya tanyai, kebanyakan kawan yang memilih nonton Knock Knock di bioskop tertarik lantaran ada nama Keanu Reeves dan wajahnya di poster. Nama besarnya rupanya masih jadi magnet penonton.
Kita semua tahu, Keanu Reeves jadi aktor yang tenar sejagat pada 1990-an berkat Speed (1994). Di film karya Jan de Bont itu, Reeves berperan sebagai penjinak bom yang harus berjibaku dengan mantan polisi yang sakit hati. Speed, yang mempertemukan Reeves dengan Sandra Bullock, begitu disukai penggemar film laga masa itu karena ketegangan yang intens sepanjang film. Kemudian pula, potongan rambut Keanu Reeves jadi tren di kalangan pria generasi 1990-an. Bagi cewek masa itu ia juga punya panggilan akrab: Mas Nunu.
Selepas Speed, lompatan karier "Mas Nunu" berikutnya adalah The Matrix (1999). Film garapan Wachowski Bersaudara itu dianggap mendefenisi ulang film fiksi ilmiah. The Matrix membuat prekuel Star Wars garapan George Lucas yang rilis di tahun yang sama terlihat seperti mainan anak-anak. The Matrix, di lain pihak, mengawinkan filsafat Timur dan Barat serta fiksi ilmiah. Belum lagi efek khususnya macam "bullet time" yang terus dikenang hingga kini.