Liputan6.com, Flores: Primitif itu gaib. Itulah sebabnya, Suku Lio yang kabarnya pernah mendiami Pulau Flores, Nusatenggara Timur, sarat dengan tradisi bararoma mistik. Tak perlu heran jika kelompok masyarakat tertua yang berada di sekitar Gunung Kelimutu ini berpaham animisme. Tapi, itu dulu. Kini, yang tersisa dari tradisi di Kampung Ngela, Kabupaten Ende --dipercaya sebagai generasi terkini Suku Lio-- hanya tinggal filsafat tiga warna Danau Kelimutu dan sejumlah tradisi, semacam upacara adat perkawinan.
Bagi masyarakat setempat yang 70 persennya menganut Katolik sejak kedatangan Portugis, Gunung Kelimutu adalah lambang filsafat kehidupan sehari-hari. Mereka percaya gunung tersebut sebagai tempat kediaman roh orang yang telah meninggal, sesuai dengan artinya, keli yang berarti gunung dan mutu bermakna orang mati.
Menurut keyakinan mereka, manusia dibedakan menjadi tiga golongan. Pertama, kelompok orang yang semasa hidupnya selalu berbuat kebaikan. Sejatinya, ketika meninggal, roh mereka mendiami Danau Tiwu Ata Mbupu yang berwarna putih: lambang kesucian. Sayangnya, saat ini berubah menjadi hitam. Kelompok kedua adalah manusia yang selalu memikirkan hal-hal jahat. Bagi mereka, rohnya bakal berdiam di Danau Tiwu Ata Polo yang berwarna merah sebagai lambang kekerasan. Namun, kini warna merahnya pun telah berubah menjadi coklat.
Terakhir adalah kelompok netral. Pasalnya, orang yang tergabung dalam kelompok ini tak pernah memikirkan kebaikan dan kejahatan, namun suka bersenang-senang sepanjang hari. Mereka inilah, belakangan disebut kelompok muda-mudi yang ketika meninggal akan menempati Danau Tiwu Nua Muri Kooh Fai. Kini, danau warna biru sebagai lambang kaum muda tersebut telah berubah warna menjadi hijau cerah.
Secara ilmiah, pembentukan dan perubahan warna yang terjadi di danau yang berada di ketinggian 1.600 meter itu disebabkan adanya mineral yang terlarut dalam air plus kehidupan organisme di dasar danau. Kemudian ketika dipengaruhi cuaca dan suhu air, mineral dan organisme tersebut memancarkan warna --seperti yang terlihat dari luar selama ini.
Meski begitu, masyarakat keturunan suku Lio tetap yakin, roh-roh mereka bakal bergentayangan di kediamannya masing-masing untuk selamanya, yakni di Gunung Kelimutu. Sebab, tempat tersebut memang disediakan para leluhur mereka sebagai ganjaran atas perbuatan semasa hidup di dunia.
Warna tampaknya memang menjadi keseharian warga kampung yang berjumlah 1.109 jiwa tersebut. Bagi mereka, selain meneruskan tradisi, setiap upacara tradisional di sana juga tak luput dengan penggunaan warna yang dibuat dari bahan alam --dedaunan dan akar pohon-- terutama untuk kain tenun tradisional khas Ende. Sebab, selain dipakai sehari-hari, kain tenun yang telah diwarnai tersebut digunakan sebagai satu unsur penting dalam upacara adat besar.
Upacara perkawinan, misalnya, mempelai wanita biasa menyediakan seperangkat mas kawin atau belis yang satu di antaranya berisi kain adat hasil tenunan. Sedangkan sisanya, berisi sirih pinang dan rokok. Seluruh mas kawin itu diserahkan kepada mempelai pria. Sebagai balasan, sang pria memberikan belis berupa hewan ternak, seperti babi, kuda, atau kambing. Belis tersebut dipercaya sebagai tanda penghargaan dan penghormatan nyata untuk menciptakan tali kekeluargaan yang erat dan luas.(SID/Tim Potret)
Bagi masyarakat setempat yang 70 persennya menganut Katolik sejak kedatangan Portugis, Gunung Kelimutu adalah lambang filsafat kehidupan sehari-hari. Mereka percaya gunung tersebut sebagai tempat kediaman roh orang yang telah meninggal, sesuai dengan artinya, keli yang berarti gunung dan mutu bermakna orang mati.
Menurut keyakinan mereka, manusia dibedakan menjadi tiga golongan. Pertama, kelompok orang yang semasa hidupnya selalu berbuat kebaikan. Sejatinya, ketika meninggal, roh mereka mendiami Danau Tiwu Ata Mbupu yang berwarna putih: lambang kesucian. Sayangnya, saat ini berubah menjadi hitam. Kelompok kedua adalah manusia yang selalu memikirkan hal-hal jahat. Bagi mereka, rohnya bakal berdiam di Danau Tiwu Ata Polo yang berwarna merah sebagai lambang kekerasan. Namun, kini warna merahnya pun telah berubah menjadi coklat.
Terakhir adalah kelompok netral. Pasalnya, orang yang tergabung dalam kelompok ini tak pernah memikirkan kebaikan dan kejahatan, namun suka bersenang-senang sepanjang hari. Mereka inilah, belakangan disebut kelompok muda-mudi yang ketika meninggal akan menempati Danau Tiwu Nua Muri Kooh Fai. Kini, danau warna biru sebagai lambang kaum muda tersebut telah berubah warna menjadi hijau cerah.
Secara ilmiah, pembentukan dan perubahan warna yang terjadi di danau yang berada di ketinggian 1.600 meter itu disebabkan adanya mineral yang terlarut dalam air plus kehidupan organisme di dasar danau. Kemudian ketika dipengaruhi cuaca dan suhu air, mineral dan organisme tersebut memancarkan warna --seperti yang terlihat dari luar selama ini.
Meski begitu, masyarakat keturunan suku Lio tetap yakin, roh-roh mereka bakal bergentayangan di kediamannya masing-masing untuk selamanya, yakni di Gunung Kelimutu. Sebab, tempat tersebut memang disediakan para leluhur mereka sebagai ganjaran atas perbuatan semasa hidup di dunia.
Warna tampaknya memang menjadi keseharian warga kampung yang berjumlah 1.109 jiwa tersebut. Bagi mereka, selain meneruskan tradisi, setiap upacara tradisional di sana juga tak luput dengan penggunaan warna yang dibuat dari bahan alam --dedaunan dan akar pohon-- terutama untuk kain tenun tradisional khas Ende. Sebab, selain dipakai sehari-hari, kain tenun yang telah diwarnai tersebut digunakan sebagai satu unsur penting dalam upacara adat besar.
Upacara perkawinan, misalnya, mempelai wanita biasa menyediakan seperangkat mas kawin atau belis yang satu di antaranya berisi kain adat hasil tenunan. Sedangkan sisanya, berisi sirih pinang dan rokok. Seluruh mas kawin itu diserahkan kepada mempelai pria. Sebagai balasan, sang pria memberikan belis berupa hewan ternak, seperti babi, kuda, atau kambing. Belis tersebut dipercaya sebagai tanda penghargaan dan penghormatan nyata untuk menciptakan tali kekeluargaan yang erat dan luas.(SID/Tim Potret)