Cerita Menarik di Balik Beragam Motif Batik Kudus

Batik Kudus menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia yang mendunia dan tercipta oleh kolaborasi banyak budaya dan negara di dalamnya.

oleh Liputan6 diperbarui 27 Okt 2015, 07:00 WIB
Batik Kudus (sumber foto. djarumfoundation.org)

Liputan6.com, Jakarta Batik merupakan kerajinan yang telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pada abad ke-7 sampai 14. Pesona dari motif, dan kerumitan tekniknya menjadi daya tarik hingga saat ini sebagai warisan budaya Indonesia yang mendunia, tak terkecuali Batik Kudus.

Batik Kudus berasal dari sebuah kampung di Kudus Kulon, yaitu Kampung Langgar Dalem. Kampung tersebut dihuni oleh sebagian besar anak dan kerabat dari Sunan Kudus.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, para wanita di desa tersebut biasa menenun dan juga membatik di mana proses akhir dilakukan di Sungai Gelis di timur Kampung Langgar Dalem.

Dilansir dari buku "Batik Kudus, The Heritage," karya Miranti Serad Ginanjar pada Senin (26/10) keindahan batik yang lahir dari tangan telaten wanita Kampung Langgar Dalem ternyata mampu menarik beberapa saudagar dari Arab. Para saudagar yang mayoritas pedangan dan pengusaha Muslim tersebut menjadikan Batik Kudus sebagai komoditi yang diperdagangkan.

Sejak saat itu mulai berkembang motif kaligrafi yang kental akan sentuhan Islam yang menghiasi beberapa model Batik Kudus. Selain kaligrafi, motif Batik Kudus yang juga dikenal luas dan melegenda, yaitu lar (sayap) dengan isen-isen (isian) beras kecer (beras tercecer).

Selain Arab, Batik Kudus yang didominasi oleh warna biru indigo dan coklat soga ini ternyata juga dipengaruhi oleh budaya Belanda. Hal tersebut ditunjukkan dengan motif-motif tidak lazim yang muncul pada periode 1840-1920-an seperti flora dan fauna dari benua Eropa, serta ornamen yang terdapat dalam dongeng sastra Belanda.

Uniknya, motif-motif Batik Kudus dengan latar budaya Belanda tersebut lahir dari tangan wanita asli dari Belanda sendiri, seperti Carolina Josephina con Franquemont, Chaterina Carikiba van Oosterom, Eliza van Zuylen, B. Fisher, Lien Metzelaar, dan Wiler.

Banyaknya budaya yang mempengaruhi Batik Kudus, mulai dari Jawa, Arab, Tionghoa, dan Belanda, membuat batik ini memiliki motif yang kaya.

Kudus yang terkenal dengan industri kretek, menjadikan Batik Kudus sebagai media promosi industri tersebut sehingga terciptalah kolaborasi yang indah. Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam produk Batik Kudus yang memiliki motif rokok, termasuk alat pembuat kretek, logo perusahaan, sampai seragam pegawainya. 

Sumber. Batik Kudus, The Heritage

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya