Liputan6.com, Semarang: Ginekolog dan konsultan seks terkemuka, dr. Boyke Dian Nugraha mengatakan bahwa program Keluarga Berencana (KB) bukan produk pemerintah orde baru.
"Hal ini penting dikatakan karena sebagian masyarakat masih menganggap bahwa KB adalah produk orde baru," katanya usai menjadi pembicara dalam seminar "Dampak Pergaulan Bebas terhadap Kesehatan Reproduksi" di kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, baru-baru ini.
Menurutnya, akibat anggapan tersebut banyak masyarakat yang tidak mau lagi mengikuti program tersebut karena penguasa orde baru sudah lengser.
Meskipun program KB dikeluarkan saat pemerintahan orde baru, namun program tersebut harus tetap digalakkan untuk mengatasi laju peningkatan jumlah penduduk. Boyke menilai saat ini pelaksanaan program KB tidak segencar dahulu. "Bahkan, bukan hanya KB, namun juga program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang saat ini sudah mulai meredup gaungnya," katanya.
Padahal, program tersebut justru menyentuh lini terkecil masyarakat dan memberikan manfaat yang sangat positif bagi rakyat Indonesia.
Ia mengatakan, program KB terbukti dapat menekan laju pertumbuhan penduduk, sementara Posyandu mampu memberikan informasi, pelayanan, dan kecukupan gizi bagi masyarakat, terutama anak-anak. Program tersebut sampai saat ini memang masih berjalan, namun tidak berjalan optimal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak-anak terkena busung lapar dan banyak keluarga yang memiliki banyak anak. (ANTARA)
"Hal ini penting dikatakan karena sebagian masyarakat masih menganggap bahwa KB adalah produk orde baru," katanya usai menjadi pembicara dalam seminar "Dampak Pergaulan Bebas terhadap Kesehatan Reproduksi" di kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, baru-baru ini.
Menurutnya, akibat anggapan tersebut banyak masyarakat yang tidak mau lagi mengikuti program tersebut karena penguasa orde baru sudah lengser.
Meskipun program KB dikeluarkan saat pemerintahan orde baru, namun program tersebut harus tetap digalakkan untuk mengatasi laju peningkatan jumlah penduduk. Boyke menilai saat ini pelaksanaan program KB tidak segencar dahulu. "Bahkan, bukan hanya KB, namun juga program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang saat ini sudah mulai meredup gaungnya," katanya.
Padahal, program tersebut justru menyentuh lini terkecil masyarakat dan memberikan manfaat yang sangat positif bagi rakyat Indonesia.
Ia mengatakan, program KB terbukti dapat menekan laju pertumbuhan penduduk, sementara Posyandu mampu memberikan informasi, pelayanan, dan kecukupan gizi bagi masyarakat, terutama anak-anak. Program tersebut sampai saat ini memang masih berjalan, namun tidak berjalan optimal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak-anak terkena busung lapar dan banyak keluarga yang memiliki banyak anak. (ANTARA)