Bertengkar dengan Pacar, Pria Ini Bersepeda ke Afrika

Urusan cinta terkadang memerlukan kekinian ekstrem supaya berhasil 'move on'.

oleh Alexander LumbantobingDiterbitkan 21 September 2015, 12:30 WIB
Gambar dari Daily Star.

Liputan6.com, Foshan - Layaknya 'bumbu' dalam sebuah hubungan, pertengkaran karena perbedaan pendapat memang tidak bisa dihindarkan. Namun kerichuan kecil ini dapat membawa dampak yang kurang baik-- hingga terkadang memerlukan masa pemulihan yang cukup untuk mendinginkan suasana hati.

Namun, seorang pemuda asal Tiongkok bernama He Ganhui di Foshan provinsi Guangdong memutuskan untuk memperbaiki mood-nya dengan melakukan perjalanan dengan sepeda menuju Afrika setelah pacarnya marah-marah.

Seperti yang dikutip dari Daily Star, He memang sudah biasa melakukan aktivitas sepeda jarak jauh setiap kali bertengkar dengan pacarnya. Namun pada suatu hari di tahun 2012 guru olahraga anggar ini kembali bertengkar dengan kekasihnya-- ia pun memutuskan untuk bersepeda ke Beijing guna mendinginkan kepala.

“Saya pinjam sepeda teman dan melakukan perjalanan ke Beijing. Ketika itu merupakan pertama kalinya saya bersepeda sejauh itu, dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan. Saya bahkan tidak tahu caranya menambal ban kempis,” ungkapnya.

Namun ketika He dihubungi kekasihnya melalui telepon dan mengetahui rencananya, ia memutuskan dengan seketika untuk ikut serta dalam perjalanannya. Pada akhirnya sepasang kekasih ini menyusuri pantai Timur Tiongkok, melalui Shanghai dan propinsi Shandong, Jiangsu, dan Zhejiang.

Setibanya di Beijing, He mengklaim mereka tidak bertengkar sepanjang jalan.

Katanya, “Hebatnya, kami tak pernah berkelahi dalam perjalanan menuju Beijing.”

Berkelahi lagi

Dalam perjalanan pulang, pengalaman ini menghebatkan kecintaa terhadap olahraga sepeda. Namun perkelahian kembali terjadi pada tahun 2013.

Tanpa berpikir panjang, He memtuskan kembali memutuskan untuk melakukan perjalanan sepeda jarak jauh bersama seorang teman-- namun kali ini ia memutuskan untuk menuju Afrika!

Dimulai dengan penyusuran Chongqing di bagian Tenggara, He dan temannya tiba di Tibet, dan melintasi batasan Nepal berlanjut hingga pada akhirnya mereka sampai di Kenya Benua Afrika!

Ilustrasi perjalanan dengan kaki dari Google Maps

Namun perjalanan mereka tidak semulus yang di kira, hal yang tidak terpikirkan menjadi masalah sesampainya di Afrika.

“Setibanya di Afrika, kami tidak memiliki tempat untuk beristirahat, dan terpaksa tidur di depan rumah kepala suku di sana. Mereka melihat kami seperti mahluk yang aneh-- seolah-olah kami dari dunia lain.”

Seperti layaknya sebuah cerita, perjalanan mereka harus berakhir. Namun perjalanan mereka berakhir dengan mengenaskan, tas punggung dan sepeda dicuri di Zambia-- dan memutuskan untuk pulang.

He kini sudah kembali akur dengan kekasihnhya. Ia pun berjanji untuk tidak melakukan perjalanan jauh guna menenangkan diri, namun bicarakan bersama masalah-masalah mereka-- sementara pasangannya berjanji untuk tidak berteriak padanya. 

"Sepertinya saya sudah melihat dunia. Sudah saatnya saya memperbaiki hubunganku di sini,"

He added: "I guess I've seen enough of the world now. It's time to try and make things work at home."

Untunglah, sekarang ia sudah berbaikan dengan pacarnya dan ia akan berjanji untuk menyelesaikan dengan berbicara baik-baik. Sedangkan pacarnya berjanji untuk tidak berteriak kepada pria itu. Katanya, “Saya kira saya sudah cukup melihat dunia. Sekarang waktunya mencoba dan memperbaiki yang ada di sini.” (Alx)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya