Guardiola: Dedikasikan Kemenangan buat Maldini

Josep Guardiola peduli dengan Paolo Maldini yang di ujung kariernya mendapat kritik dari tifosi AC Milan. Kemenangan di final Liga Champions juga tidak terlepas dari fleksibilitas strateginya.

oleh Liputan6Diterbitkan 28 Mei 2009, 05:21 WIB
Liputan6.com, Roma: Barcelona untuk ketiga kalinya menjuarai Liga Champions atau yang sebelumnya disebut European Cup setelah mengalahkan Manchester United 2-0 (1-0) di partai final di Stadio Olimpico, Roma, Kamis dini hari WIB. Setelah pertandingan bos Barcelona, Pep Guardiola meluapkan kegembiraannya.

Berbicara dalam sesi wawancara, Guardiola berbagi kegembiraan dengan Paolo Maldini yang mendapat kritikan dari pendukung AC Milan dalam partai perpisahan di San Siro akhir pekan lalu. Cukup mengejutkan, kemenangan atas MU didedikasikan buat Maldini.

“Saya dedikasikan kemenangan ini untuk persepakbolaan Italia dan Paolo Maldini, yang tidak usah khawatir. Ia dikagumi di seluruh Eropa,” papar Guardiola kepada RAI Sport. “Sungguh pengalaman yang hebat buatku. Sebuah kegembiraan bisa memenangkannya di Roma, sebuah pelukan saya sampaikan buat seluruh pencinta sepakbola di Italia.”

Guardiola pernah merasakan panasnya persaingan di Serie A Italia. Salah satu dari dua klub yang pernah diperkuat playmaker andal di masanya itu adalah AS Roma, satu lagi Brescia. Itu pula yang membuatnya peduli dengan apa yang dialami Maldini, sosok yang dikaguminya.

Keberhasilan Guardiola di Barca sungguh fenomenal. Di usianya yang 38 tahun, ia menjadi pelatih termuda dalam kurun waktu 49 tahun yang berhasil membawa timnya tampil sebagai juara. Ia juga menjadi orang keenam yang pernah merasakan mengangkat trofi baik sebagai pemain maupun pelatih.

Plus, di tahun pertamanya, Guardiola berhasil mengantar Barca merebut treble winners. Liga Champions melengkapi trofi La Liga dan Copa del Rey. Kehebatannya meracik strategi terlihat dari fleksibilitasnya mengutak-atik skema. Lionel Messi yang “mati kutu” ditempel Patrice Evra sengaja digeser ke tengah.

Samuel Eto’o yang punya power lebih besar mampu menggoyang Evra. Carles Puyol juga memperoleh keuntungan dari menurunnya konsentrasi Evra. “Kami mempelajari kegagalan melewati MU di babak semifinal tahun lalu. Messi bermasalah ketika dijaga Evra. Jadi kami putusakan menempatkan Messi agak ke dalam dan mengganggu dua centre-back mereka,” jelas Guardiola.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya