Redakan Ketegangan, Korsel-Korut Lanjutkan Perundingan

Tidak ada liputan media terhadap perundingan yang berlangsung di dalam zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea itu.

oleh Rinaldo diperbarui 23 Agu 2015, 15:34 WIB
Zona demiliterisasi Panmunjom di perbatasan Korsel-Korut (voanews.com)

Liputan6.com, Jakarta - Korea Utara dan Korea Selatan melanjutkan pembicaraan putaran kedua pada Minggu ini untuk meredakan ketegangan kedua negara yang terus meningkat. Pengumuman untuk melanjutkan pembicaraan ini dibuat setelah kedua pihak berunding beberapa jam pada hari Sabtu.

Seperti dilansir BBC, Minggu (23/82015), kedua pihak kemudian sepakat untuk bertemu lagi pada Minggu sore untuk mempersempit perbedaan menyusul perundingan yang berjalan sekitar 10 jam pada hari Sabtu 22 Agustus 2015.

Pejabat penting dari kedua negara telah bertemu di wilayah gencatan senjata, Panmunjom, di dekat perbatasan. Tidak ada liputan media terhadap perundingan yang berlangsung di dalam zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea itu.

Dalam pembicaraan hari Minggu, Korea Selatan akan diwakili penasihat keamanan nasional Kim Kwan-jin dan Menteri Unifikasi Hong Yong-Pyo, sementara Korea Utara akan mengirim pejabat senior Hwang Pyong-jadi dan Kim Yong-gon.

Propaganda Korsel

Korea Utara sebelumnya telah mengultimatum Korsel agar membongkar alat pengeras suara berisi buletin berita, ramalan cuaca dan musik- yang diarahkan ke wilayah Korut di perbatasan.

Korut kemudian menembakkan artileri di sepanjang perbatasan untuk memprotes siaran propaganda tersebut. Korsel kemudian balas menembakkan artileri ke wilayah Korut dekat perbatasan kedua negara.

Sejauh ini Korea Selatan juga telah memindahkan hampir 4.000 warganya dari daerah perbatasan.

Sementara itu, pesawat jet temput AS dan Korea Selatan telah melakukan penerbangan dalam formasi bersama di dekat perbatasan. Pejabat keamanan AS telah menegaskan kembali komitmen kuat negaranya untuk membela Korea Selatan.

Korut dan Korsel sejatinya masih dalam status berperang karena pertempuran antara keduanya pada periode 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, dan bukan kesepakatan damai. (Ado/Yus)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya