Bagaimana Livi Zheng Menaklukkan Hollywood?

Mengenal lebih jauh Livi Zheng, sutradara asal Indonesia yang berkiprah di Hollywood.

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 21 Agustus 2015, 07:45 WIB
Mengenal lebih jauh Livi Zheng, sutradara asal Indonesia yang berkiprah di Hollywood.

Liputan6.com, Jakarta Saya bersalah telah berprasangka buruk dengan Livi Zheng.

Pertama, saat berkenalan dengannya, mengatur waktu wawancara via chatting di Whatsapp, ia selalu menggunakan bahasa Inggris.

Maka, saya pikir, ia seperti kebanyakan orang Indonesia yang kelamaan tinggal di negeri asing: lupa bahasa kampung halaman.

Saat kami bertemu di kantor redaksi Liputan6.com, Jakarta, belum lama ini, pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah, "Should I interview you in English?"

Dia menjawab, "Bahasa Indonesia nggak apa-apa."

Oalah… ternyata saya salah. Livi masih fasih berbahasa Indonesia. Tidak ada aksen sok Inggris dari wanita keturunan Tionghoa kelahiran Malang dua puluh enam tahun lalu ini.

Kedua, dalam hati, saya menaruh rasa skeptis duluan padanya.

Semula saya mengira segala liputan mengenai sosok Livi Zheng di berbagai media terlalu dibesar-besarkan. Begini, media kita kerap kali terlalu heboh bila ada warga Indonesia berkiprah di negeri orang, apalagi Amerika. Kita bahkan punya istilah generik untuk itu: go international.

Film Brush with Danger. (dok. Istimewa)

Livi yang menyutradarai film di Hollywood tentu saja langsung dapat sorotan media dalam negeri. Apalagi ia disebut-sebut tak hanya bikin film di Hollywood, tapi filmnya, Brush with Danger, juga dapat nominasi Oscar tahun ini.

Nominasi Oscar? Really?

Pada Livi Zheng saya bertanya langsung apa yang dimaksud dengan "Brush with Danger masuk nominasi Oscar."

Livi sangat bersemangat saat cerita tentang filmnya dan Oscar. Jika larut dalam semangatnya, wartawan yang tak hati-hati mungkin sekali terjerembab bisa salah tulis, dan mengaburkan cerita sebenarnya.

Alkisah, setelah Brush with Danger rilis di bioskop Amerika Serikat medio September tahun lalu, Livi mendapat kiriman e-mail dari penyelenggara Academy Awards atau Oscar. Isinya tentu menggetarkan setiap film maker pemula yang berkiprah di negeri Paman Sam, termasuk Livi: Undangan mengikutsertakan film ke ajang Academy Awards.

Lanjut Baca:

Livi semula mengira surat elektronik itu ulah orang iseng. Ia mengabaikannya. Hingga seminggu kemudian, surat dari penyelenggara Oscar datang lagi. Kali ini, ia sedikit percaya. Di surat itu juga dibilang, ia bisa mengirimkan copy skenario untuk disimpan di perpustakaan Oscar. "Saya tak langsung percaya. Takutnya bohong. Apalagi waktu itu filmnya masih main di bioskop," ia bercerita. Alhasil, ia hantarkan sendiri skenario ke alamat penyelenggara Oscar. "Baru dari situ saya percaya." Mengecek peraturan Oscar di situsnya, disebutkan film yang tayang di bioskop komersil di wilayah Los Angeles selama tujuh hari berturut-turut berhak ikut serta di ajang Oscar. Film Brush with Danger memenuhi syarat untuk itu. Hal yang membanggakan, tentu. Namun mengatakan filmnya masuk nominasi Oscar tetaplah keliru. Sebab, saat pengumuman nominasi Academy Awards 2015 masing-masing kategori (film, penyutradaraan, akting dll) Brush with Danger tak disebut. Namun, bagi saya kemudian, berhasil membuat film di belantara perfilman Hollywood yang penuh persaingan sengit serta mengedarkannya di bioskop komersil adalah prestasi besar yang tak sembarang orang bisa meraihnya. Apalagi, setelah kami berbincang panjang, saya tahu perjuangan Livi tak mudah. Ia banyak melalui jalan terjal.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya