Reshuffle Kabinet Bisa Angkat Ekonomi Indonesia?

Pelaku pasar modal menyebutkan tim ekonomi kabinet kerja butuh penyegaran untuk dongkrak ekonomi.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 12 Agustus 2015, 14:25 WIB
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera merombak kabinet kerja. Pelaku pasar modal mengharapkan reshuffle kabinet atau perombakan kabinet kerja dapat membantu kinerja pemerintahan.

Analis PT Investa Saran Mandiri, Hans Kwee menuturkan perombakan kabinet kerja perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja pemerintah. Dengan langkah itu diharapkan positif bagi pasar modal.

"Butuh kecepatan dan figur yang kuat dan pemahaman ekonomi di jajaran kabinet. Agar persepsi pasar lebih positif dan membantu kinerja IHSG dan nilai tukar terpuruk," ujar Hans, saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (12/8/2015).

Hal senada dikatakan Kepala Riset PT Universal Broker Securities. Satrio menilai, ekonomi Indonesia melambat menjadi salah satu indikasi untuk melakukan perombakan kabinet kerja. Karena itu, ia menilai butuh penyegaran untuk mendorong ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2015 tercatat 4,67 persen, atau turun dari realisasi kuartal sebelumnya yang berada di level 4,72 persen. Ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7 persen hingga semester I 2015, turun dari periode sama tahun lalu sekitar 5,17 persen.

"Butuh penyegaran. Pelaku pasar merasa kualitas tim ekonomi yang ada kurang jadi butuh penyegaran," kata Satrio.

Ia mengharapkan, pelaku pasar ingin figur tim ekonomi bersih dan mampu bekerja. Sosok Darmin Nasution yang disebut-sebut jadi Menteri Koordinator Perekonomian, Satrio menilai, sosok Darmin cukup bagus. "Pak Darmin figur sosok yang bersih, kondisi ekonomi sekarang butuh sosok lebih baik itu harapannya," ujar Satrio.

Hal senada dikatakan, Analis PT MNC Securities Sharlita Malik. Sosok Darmin Nasutiin yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) dapat membantu tim ekonomi baru. Pergantian susunan kabinet tersebut diharapkan dapat mendorong ekonomi.

"Ada perubahan ekonomi lebih baik diharapkan berimbas ke pasar modal termasuk kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Perombakan kabinet ini jadi ada kepastian di tengah ekonomi melambat hanya 4,6 persen," kata Sharlita.

Sharlita menilai, ekonomi Indonesia melambat membuat kepercayaan pelaku pada terhadap ekonomi Indonesia rendah. Hal itu menunjukkan dari aliran dana investor asing keluar dari pasar modal Indonesia. Dana investor asing hanya tinggal sekitar Rp 2,2 triliun hingga penutupan perdagangan saham Selasa 11 Agustus 2015.

Sentimen ekonomi melambat itu pun menekan laju IHSG. Hal itu ditambah dengan ketidakpastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) sehingga mempengaruhi indeks saham."Tantangan lainnya juga datang dari China. Pemerintah China melakukan devaluasi mata uangnya juga mempengaruhi pelaku pasar," kata Sharlita.

Sharlita memprediksikan, IHSG dapat tembus di kisaran 4.200-4.500 hingga akhir tahun 2015. Sedangkan Satrio masih optimistis terhadap laju IHSG. Level IHSG berpotensi di kisaran 5.000 pada akhir 2015. (Ahm/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya