Makin Diminati, Berapa Nilai Ekspor Ubur-ubur dan Bekicot RI?

Ubur-ubur dan bekicot mencatatkan kenaikan ekspor masing-masing 106,83 persen dan 28,28 persen sepanjang Januari-Mei 2015.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 15 Jun 2015, 17:14 WIB
Jangan takut, ubur-ubur ini tidak beracun dan tidak menyengat!

Liputan6.com, Jakarta - Hasil pertanian Indonesia mencatatkan kenaikan ekspor ke berbagai negara, termasuk ubur-ubur dan bekicot. Binatang yang menurut sebagian orang menjijikkan ini, justru digemari negara lain. Berapa nilai ekspor kedua komoditas ini serta hasil pertanian lainnya?

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diterima Liputan6.com, Jakarta, Senin (15/6/2015), [ubur-ubur](2252261/ "") dan bekicot masuk dalam jenis hasil pertanian ikan-ikanan. Masing-masing komoditas ini mengalami peningkatan ekspor 106,83 persen dan 28,28 persen sepanjang Januari-Mei 2015 dibanding periode yang sama 2014.

Pada periode tersebut, nilai ekspor ubur-ubur mencapai US$ 14,75 juta atau meningkat dari Januari-Mei 2014 yang sebesar US$ 7,13 juta. Sedangkan ekspor bekicot dari US$ 2,64 juta menjadi US$ 3,39 juta. Sedangkan khusus di Mei 2015, nilai ekspor keduanya masing-masing US$ 1,71 juta dan 967 ribu.

Dari jenis ikan lainnya, ekspor ikan tongkol atau tuna naik 31,24 persen menjadi US$ 47,52 juta di periode Januari-Mei 2015 dari sebelumnya US$ 69,11 juta.
Kinerja ekspor hasil pertanian lainnya, meliputi kopi naik  40,31 persen dari US$ 330,55 juta menjadi US$ 463,80 juta. Rempah-rempah seperti lada hitam dari US$ 32,62 juta menjadi US$ 38,02 juta atau meningkat 18,63 persen.

Ekspor lada putih naik 66,62 persen dari US$ 38,73 juta menjadi US$ 66,15 juta, kayu manis dari US$ 17,58 juta menjadi US$ 20,80 juta atau naik 18,36 persen. Sementara biji pala menjadi US$ 50,62 juta dari sebelumnya US$ 50,25 juta atau meningkat 0,44 persen dan ekspor vanili naik 50,86 persen dari US$ 2,38 juta menjadi 3,99 juta. (Fik/Ahm)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya