Gajah Putih itu Ternyata ada di Myanmar Bukan di Thailand

Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar. Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan.

oleh Liputan6 diperbarui 14 Jun 2015, 12:04 WIB
Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar. Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan.

Citizen6, Myanmar Day 42 -  50, KM : 8934

Myanmar atau dahulu yang kita kenal Burma menjadi negara ke-4 perjalanan Wheel Story season 3 dan negara ke-9 petualangan Wheel Story sejak 3 tahun lalu. Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar. Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan.

Semuanya telah kita urus jauh-jauh hari sebelum berada di sini. Memang mahal dan banyak dokumen yang harus disiapkan sebelumnya. Perjalanan kali ini kami tergabung menjadi 8 motor dan 1 mobil untuk melintasi Myanmar selama 9 hari. Total berjumlah 10 orang datang dari negara Australia, Prancis, Polandia, Rusia, Jerman, Singapore dan Indonesia. Semua mengarah ke tujuan yang sama yaitu exit ke India.

Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar. Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan.

Myanmar atau dahulu yang kita kenal Burma menjadi negara ke-4 perjalanan Wheel Story season 3 dan negara ke-9 petualangan Wheel Story sejak 3 tahun lalu. Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar. Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan. Semuanya telah kita urus jauh-jauh hari sebelum berada di sini.

Memang mahal dan banyak dokumen yang harus disiapkan sebelumnya. Perjalanan kali ini kami tergabung menjadi 8 motor dan 1 mobil untuk melintasi Myanmar selama 9 hari. Total berjumlah 10 orang datang dari negara Australia, Prancis, Polandia, Rusia, Jerman, Singapore dan Indonesia. Semua mengarah ke tujuan yang sama yaitu exit ke India.

Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar. Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan.

Terus kami lanjut ke arah barat, dan hari pun keburu malam. Awan gelap menggumpal dan angin bertiup kencang dan badai. Kami terus riding di kegelapan malam yang dingin jarang terlihat rumah penduduk dan terus riding bahkan pandangan jadi buram karena saking lebatnya hujan berangin, jalan sempit bergelombang dan akhirnya sampailah di Bagan, parkir motor makan dan tidur, tenaga terasa terkuras hari ini.

Esoknya pagi-pagi buta sudah bangun tak sempat mandi sudah berlarian ke mobil guide dan tancap gas ke salah satu temple di tengah-tengah kota Bagan, naik puluhan anak tangga di Shwesandaw  Pagoda dan semua rider pun tercengang dengan keindahan daratan berdiri sekitar 2270 pagoda yang dibangun dari abad 11 hingga abad ke 13 berjejer rapi.

Matahari mulai muncul, menikmati pemandangan 360 derajat dari sini. Pada bulan tertentu kala tak musim hujan akan berterbangan puluhan balon wisata seperti di Cappadocia (Turkey). Untuk bisa lebih melihat detail keindahan Bagan dari udara dan terakhir kami mengunjungi Shwezigon Pagoda yang terdapat didaerah Nyang-u.

Mandalay, kota terbesar dan tersibuk se Myanmar setelah Yangon menjadi destinasi berikutnya. Wah belum masuk sudah panas menerjang. Semua kehausan dan lihat saja masyarakat di sini kalau bawa motor tak peduli arah dan lalu lintas. Semua main terobos dan kita pun waspada.

Tidaklah gampang untuk masuk membawa kendaraan sendiri di Myanmar. Kita harus memiliki pemandau dan staff pemerintahan.

Rata-rata di Myanmar kaum lelaki menggunakan sarung ataupun di sebut dengan Longhi. Sudah tradisi, di sini baik pria maupun wanita segala usia, mereka memoles pipinya memakai semacam bedak yang terbuat dari kayu yang di campur dengan air.

Saya mencoba memoles di wajah dan ternyata terasa sejuk, memang ini cara orang Myanmar melindungi kulit wajahnya dari sengatan sinar matahari.

Monywa menjadi tujuan kami berikutnya. Rriding sekitar 4 jam dari Mandalay dan kami menginap di sebuah Resort terbaik di kota ini. Sore harinya kami mengujungi standing Buddha yang merupakan terbesar kedua di Asia dan juga patung sleeping Buddha terbesar di Asia. Patung standing Buddha memiliki 33 lantai, kebayang bukan tingginya.

Melintasi Myanmar

Kota terakhir kami adalah Kale. Kami hanya melakukan transit disini sebelum lanjut ke Tamu (border dengan Moreh India) sekitar 2 jam riding ke arah barat. Tak banyak yang kami lakukan disini.

Total perjalanan membelah Myanmar kurang lebih 2.000 Km telah berhasil kami lewati walau seringkali kami melakukan check point setiap masuk dan keluar distrik, bagian selatan Myanmar yang masih belum aman, namun keramahan warga Myanmar dan juga keunikan budaya dan keindahan negara ini sungguh berkesan, belum lagi makanan khas Myanmar yang cocok dilidah kami sang petualang. 

Dalam group perjalanan ini ada 7 negara berbeda dan datang dari arah yang berbeda pula dan pada hari yang sama, jam yang sama kami bertemu di tempat yang sama dan riding bersama.

Gajah putih Myanmar

Pasangan Liz Kelly & Con Feyen (Australia) masing-masing memakai Suzuki DR650, David Smith (Australia) & Ghislaine Gires (Prancis) juga dengan Suzuki DR650, Oleg Kharitonov (Rusia) dengan BMW GS650, Przemek Skoneczny (Polandia) naik Yamaha Tenere 660XT, Juvena (Singapore) dengan Vespa PX150 dan Reihold Dreier (Jerman) naik VW Transporter dan juga Mario dan Lilis dengan Benelli BN600 dari Indonesia . Masing-masing kami akan berpisah setelah masuk India Timur (Manipur) dan mengarah ke tujuan kami masing-masing mengexplore dunia.


Berikut video di Thailand : https://youtu.be/KPA-ePH2DB8

 

Penulis:

Mario Iroth

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya