Sigi Investigasi: Bahaya Terselubung di Lereng Merapi

Ekses sampingan adanya penambangan pasir diluar normalisasi mulai mengganggu dan bisa menyebabkan sejumlah kerusakan serius.

oleh Liputan6 diperbarui 14 Jun 2015, 03:20 WIB
Ekses sampingan adanya penambangan pasir diluar normalisasi mulai mengganggu dan bisa menyebabkan sejumlah kerusakan serius.

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Merapi termasuk salah satu gunung di Indonesia yang aktif bererupsi. Material pasir dan batu yang kemudian memadati sungai membuat sungai perlu dinormalisasi agar kembali pada fungsinya.

Namun ekses sampingan adanya penambangan pasir diluar normalisasi mulai mengganggu dan bisa menyebabkan sejumlah kerusakan serius yang berdampak luas bagi warga sekitar dan bisa membahayakan.

Hal itu membuat sekelompok warga dalam kelompok besar yang marah turun ke jalan. Mereka adalah penduduk di sekitar lereng Gunung Merapi yaitu Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem dan warga Desa Girikerno, Kecamatan Turi, Sleman, Yogyakarta. Aksi emosional ini menuntut penambangan pasir dengan alat berat dihentikan.

Aksi bertambah panas. Warga merobohkan pohon serta menutup akses keluar-masuk ke areal pertambangan. Demonstrasi yang melibatkan banyak massa ini berakhir dengan keluarnya sejumlah truk pengangkut pasir dari lokasi-lokasi pertambangan.

Pasca-ramainya unjuk rasa antipenambangan di lereng Merapi, lokasi itu Tim Sigi Investigasi datangi. Infonya, penambangan masih berlangsung. Dalam perjalanan beberapa truk yang bermuatan pasir terlihat.

Lokasi yang dimaksud adalah Dusun Turgo, Desa Purnabinangun, Kecamatan Pakem. Kami melihat adanya aktivitas sejumlah orang yang menambang pasir di sini.

Di areal penambangan ini nampak sebuah eskavator yang sedang tak beroperasi. Ini yang kemudian menjadi tanda tanya, apa gerangan yang sedang diperbuat eskavator.

Kami telusuri fakta baru dengan pindah ke areal tambang pasir lainnya. Kali ini Dusun Ngepring, Purnabinangun, jadi sasaran kami. Lokasi tambang ini sudah tak beraturan. Aktivitas penambangan pasir di sekitar areal lahan di lereng Merapi seperti inilah yang banyak dikeluhkan oleh warga sekitar.

Gunung Merapi sudah berkali-kali meletus dan terakhir meletus pada 2010. Jutaan kubik material pasir dimuntahkan dari perut Merapi ke udara, sebagian lagi berupa pasir dan bebatuan turun berbarengan dengan lahar dingin ke beberapa sungai sekitarnya.

Usai erupsi, material pasir menutupi sungai dan lahan di sekitar gunung Merapi sehingga perlu dilakukan normalisasi sungai. Namun kenyataannya usai normalisasi, warga merasa dirugikan.

Penyelidikan penambangan pasir di sekitar lereng Merapi kami lanjutkan. Sebuah desa di Kecamatan Turi kami datangi. Sejumlah penambang yang berada di sana tiba-tiba menghentikan aksinya. Beberapa pertanyaan kami dijawab dengan sangat janggal.

Terkait izin kelola yang pada saat itu dikeluarkan, ESDM Kabupaten Sleman angkat bicara. Pasir yang ditambang ini didistribusikan ke beberapa depo penjualan pasir di sekitar lereng Merapi.

Ternyata penambangan pasir ini bisa berdampak pada kerusakan yang serius pada kehidupan di sekitar lereng Merapi bahkan Kota Yogyakarta.

Pencarian penambangan pasir yang tak semestinya kami teruskan. Sasarannya di sekitar Kali Adem, Cangkringan. Dalam perjalanan terlihat sebuah alat berat pengeruk pasir melintas.

Sepertinya curiga kami ikuti, mobil pembawa alat berat ini pun berhenti. Kami coba berganti taktik. Lokasi tambang lainnya kami datangi yaitu Desa Purnabinangun, Kecamatan Pakem dan disini kami berpura-pura sedang mencari lokasi tambang.

Tak lama seseorang menghampiri kami dan ia mengaku sebagai pemilik lahan. Butuh alasan kuat agar ia tak curiga dan kami pun bersandiwara lagi.

Dampak tak menguntungkan dari pertambangan di lereng Merapi ternyata dirasakan pula oleh para petani yaitu mengganggu sistem pengairan sawah mereka. Air yang biasanya melimpah untuk mengaliri sawah mereka kini berkurang. Akibatnya masa tanam pun berubah.

Penambangan pasir di areal lahan di sekitar lereng Merapi dikritisi secara serius oleh dinas-dinas terkait. Sementara soal perizinan yang dikeluarkan pun terjadi silang pendapat.

Sudah pada kodratnya manusia menjaga alam dan lingkungannya. Eksploitasi tanpa perhitungan bisa mengakibatkan alam menjadi rusak dan pertaruhannya adalah generasi selanjutnya yang menerima kerugian terbesar.

Bagaimana penambangan pasir yang membahayakan wilayah lereng Merapi ini bisa beroperasi? Saksikan selengkapnya dalam video Sigi Investigasi SCTV, Minggu (14/6/2015), di bawah ini. (Nda/Ado)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya