Tim Komunikasi Presiden Salah Beri Tahu Jokowi Kota Lahir Sukarno

Sukardi menuturkan, Jokowi waktu itu memintanya untuk memeriksa karena seingatnya, Bung Karno lahir di Surabaya.

oleh Silvanus Alvin diperbarui 05 Jun 2015, 08:20 WIB
Menurut Sukardi Rinaki, Jokowi sudah memiliki juru bicara 34 orang.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Jokowi salah menyebut tempat kelahiran Presiden ke-1 Republik Indonesia Sukarno dalam peringatan Hari Lahir Pancasila Senin 1 Juni 2015 di Blitar, Jawa Timur. Jokowi menyebut kota kelahiran Bung Karno ada di Blitar, padahal yang sebenarnya di Surabaya, Jawa Timur.

Tim Komunikasi Presiden Sukardi Rinakit meminta maaf, karena hal tersebut merupakan kekeliruannya. Apalagi, Presiden Jokowi sempat menjadi bahan olok-olok.

"Kesalahan tersebut sepenuhnya adalah kekeliruan saya dan menjadi tanggung jawab saya. Karena ketika Presiden sedang menyusun pidato tersebut, beliau bertanya pada saya tentang Blitar. Saya menjawab bahwa Bung Karno lahir dan disemayamkan di Blitar," kata Sukardi dalam pesan tertulisnya yang diterima pada Jumat (5/6/2015).

Sukardi menuturkan, Jokowi waktu itu memintanya untuk memeriksa karena seingatnya, Bung Karno lahir di Surabaya. Tanpa memeriksa lebih mendalam dan seksama, Sukardi menginformasikan kepada Jokowi bahwa Bung Karno lahir di Blitar.

Referensinya saat itu situs web Tropenmuseum.nl, yang menyebutkan Bung Karno lahir di Blitar: "Soekarno (ook wel gespeld als Sukarno), geboren als Kusno Sosrodihardjo, Blitar, 6 Juni 1901- Jakarta 21 Juni 1970) was de eerste president van de Republiek Indonesia".

Selain itu, juga banyak bahan lain yang menyebutkan Sukarno lahir di Blitar. Selain itu, ingatannya dibelenggu oleh cerita rakyat yang sejak kecil didengar di kampungnya bahwa Bung Karno dilahirkan di Blitar.

"Untuk itu, dengan tulus saya mohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya kepada keluarga Bung Karno, utamanya Ibu Megawati Soekarnoputri, dan Ibu Puan Maharani yang hadir pada acara tersebut," kata dia.

"Saya berjanji untuk lebih teliti dan berhati-hati dalam memberikan informasi khususnya yang berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa. Merdeka!," tandas Sukardi. (Mvi)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya