Ketua MPR Curhat Soal Dinamika Kongres PAN

Kongres IV PAN yang digelar di Bali itu berlangsung sengit, meskipun akhirnya PAN dapat kembali satu dan solid.

oleh Taufiqurrohman diperbarui 08 Mei 2015, 23:51 WIB
Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan seusai penutupan Rakernas I DPP PAN, di Jakarta, Kamis (7/5/2015). Rakernas tersebut membahas mengenai konsolidasi persiapan pemilihan kepala daerah serentak 2015. (Liputan6.com/Helmi Afandi)

Liputan6.com, Jakarta - Meskipun berhasil menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) dalam Kongres yang digelar 28 Februari hingga 3 Maret 2015 lalu, ‎Zulkifli Hasan mengakui dirinya kewalahan menghadapi calon lainnya yakni Hatta Rajasa.

Menurut Ketua MPR tersebut, Kongres IV PAN yang digelar di Bali itu berlangsung sengit. Meskipun akhirnya PAN dapat kembali satu dan solid.
 
"Demokrasi kita menyempurnakan bentuknya, musyawarah mufakat itu bagian demokrasi. Banyak dunia maju puji kita. Meskipun kita merasa kurang sana-sini," kata Zulkifli dalam sambutannya saat pembukaan acara Press Ghatering MPR di Medan, Sumatera Utara, Jumat (8/4/2015).

Menyambung sambutannya, Zulkifli pun becerita tentang demokrasi di PAN saat Kongres IV lalu di Bali. Dia tidak dapat meyembunyikan bahwa demokrasi yang berlangsung di partainya cukup sengit dan ketat.

"Teman-teman media enak bilang PAN demokratis. Tapi kita yang ngerasain (kongres) babak belur. Namanya tarung pasti luka, tapi zaman sekarang, kalau enggak tarung itu tidak demokratis," seloroh Zulkifli.

Untuk itu, lanjut Zulkifli, melalui MPR yang dipimpinnya, ia ingin menjadikan demokrasi lebih bermartabat dan beretika. Sehingga demokrasi dapat menyejahterakan rakyat.

"Sejak tahun 1998, roh kebangsaan mulai hilang. Ini tugas kita, bukan MPR saja menjadikan empat konsensus dasar, atau empat pilar MPR, tidak hanya sosialisas sebatas retorika, janji-janji kebangsaan, tapi menjadi perilaku dan kebudayaan kita sehari-hari," tandas Zulkifli. (Han/Ali)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya