Produksi Libya Melambat, Harga Minyak Sentuh Level US$ 60

Analis tak yakin kenaikan harga minyak dunia dapat memiliki daya tahan lebih.

oleh Agustina Melani diperbarui 06 Mei 2015, 06:40 WIB
Ilustrasi Tambang Minyak (Liputan6.com/M.Iqbal)

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah mencapai level tertinggi pada perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB) dipicu ada gangguan ekspor minyak mentah Libya. Ditambah sentimen harga jual lebih tinggi terutama minyak Arab Saudi dan melemah dolar Amerika Serikat (AS).

Harga minyak mentah acuan AS ditutup naik US$ 1,47 menjadi US$ 60,40 per barel setelah mencapai level tertinggi US$ 61,10 pada 2015. Penguatan harga minyak ini diikuti harga minyak Brent menguat US$ 1,07 ke level US$ 67,52.

Sejak April 2015, harga minyak reli antara 20-25 persen. Kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar melihat kalau pasokan minyak berkurang dari pengetatan produksi meski AS terus menampung stok minyak mentah. Namun sejumlah kalangan tidak yakin kenaikan harga baru-baru ini dapat memiliki daya tahan lebih.

"Ada banyak produsen melakukan lindung nilai juga, dan tingkat produksi tidak akan turun jika proyeksi permintaan tidak dipenuhi. Ini bisa hanya berarti kita sedang mengatur untuk leg lain di harga lebih rendah," ujar Dominick Chririchella, Senior Partner Energy Management Institute, seperti dikutip dari laman Reuters, Rabu (6/5/2015).

Harga minyak mentah telah naik 50 persen dalam waktu tiga bulan. Sebelumnya pada Juni 2014 telah turun menjadi US$ 40 per barel dari posisi tertinggi musim panas lalu di atas US$ 100.

Kenaikan harga minyak pun dipicu sejumlah sentimen antara lain protes terjadi membuat distribusi minyak mentah di Libya terhenti ke pelabuhan Zuetina di Libya Timur. Selain itu, Arab Saudi menaikkan harga jual secara resmi sehingga mencerminkan reli harga untuk persaingan dalam beberapa pekan terakhir.

Sentimen lainnya didorong dari dolar AS melemah seiring data ekonomi AS bervariasi. Baru-baru ini ada rilis neraca perdagangan AS yang semakin melebar. Negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC pun akan bertemu pada Juni 2015 untuk membicarakan kebijakan produksi. Analis melihat itu sebagai kesempatan bagi anggota untuk menahan produksi minyak. (Ahm/)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya