5 Persembahan Istimewa untuk Peserta Konferensi Asia Afrika

Karpet-karpet merah digelar. Hidangan-hidangan lezat otentik Tanah Air dihidangkan. Bahkan batu-batu bernilai tinggi diasah sebagai hadiah.

oleh Luqman RimadiKukuh SaokaniOscar FerriDiterbitkan 23 April 2015, 07:41 WIB
Konferensi Asia–Afrika (KAA) 2015

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) dirayakan dengan meriah. 2 Kota, Jakarta dan Bandung,  bersolek cantik menyambut kehadiran para delegasi negara-negara sahabat.

Karpet-karpet merah digelar. Hidangan-hidangan lezat otentik Tanah Air dihidangkan. Alunan musik tradisional didendangkan. Bahkan batu-batuan bernilai tinggi diasah sebagai hadiah bagi para tamu negara.

Namun di sudut lain, sejumlah warga Ibukota mengeluh. Mereka terpaksa berjalan kaki karena jalan-jalan protokol ditutup demi menjamin keamanan para delegasi KAA yang melintas.

Perhelatan KAA kali ini benar-benar unik. Berikut catatan keunikan perhelatan 60 tahun KAA yang dihimpun Liputan6.com, Rabu (22/4/2015):

Selanjutnya: Rujak, Lumpia, Kue Lumpur...

Rujak, Lumpia, Kue Lumpur

Rujak, Lumpia, Kue Lumpur

80 Persen hidangan yang tersaji untuk para delegasi KAA adalah cita rasa Indonesia. Sisanya Asian Food dan internasional. Setiap hari menu makanan berganti tanpa berulang.

Ada lumpia isi ayam goreng, sup buntut, nasi tumpeng hijau nusantara, klapertaart Manado, dan es krim untuk para kepala negara. Di hari lain, mereka akan menyantap tahu telor, sup iga asam pedas, nasi kapau Padang, dan kue lumpur Betawi.

Tahu gejrot ini memiliki keunikan dibanding tahu-tahu lainnya.

Sementara untuk para delegasi disediakan makanan-makanan dengan sajian prasmanan yang dilengkapi dengan hidangan pembuka dan penutup. Misalnya asinan Bogor, bakwan udang, tahu gejrot, mie juhi, soto ayam Madura, dan rujak.

Sedangkan contoh menu utama yang bisa disantap mereka, yakni ikan bakar colo-colo, gulai daging sapi, bistik lidah, ayam bakar padang, tumis kacang panjang tempe, dan nasi goreng sayuran.

Selanjutnya: Pesta Kebun...

Pesta Kebun

Pesta Kebun

Presiden Jokowi mengundang para kepala negara dan seluruh delegasi dari negara-negara peserta KAA dalam jamuan makan malam di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Sebuah panggung berukuran besar didirikan di lapangan rumput yang berada di tengah Istana Merdeka dan Istana Negara. Panggung itu disiapkan sejak 2 pekan sebelum acara digelar. 

Sementara dari luar, tenda tampak didominasi warna putih dengan berbagai hiasan bunga dan berbagai tanaman di beberapa sudut dan pintu masuk. Pada bagian atas tenda juga dihiasi berbagai tumbuhan hijau merambat dengan atap tenda berwarna transparan.

Desain tenda yang menutup seluruh halaman rumput Istana Kepresidenan belakang Istana Merdeka itu mirip acara pesta Kebun.

Foto dok. Liputan6.com

Khusus untuk para kepala negara, pihak panitia menyediakan meja makan yang panjangnya sekitar 40 meter. Di meja tersebut telah ditempatkan sebanyak 39 kursi berwarna kuning keemasan yang menghadap ke depan panggung yang akan diisi oleh berbagai pertunjukan seni dan budaya daerah.

Selanjutnya: Payung Melayang Rasa Eropa...

Payung Melayang Rasa Eropa

Payung Melayang Rasa Eropa

Suasana berbeda akan terlihat jelas begitu melintas di Jalan Otto Iskandardinata atau Otista tepat di depan pusat perbelanjaan Pasar Baru, Bandung, Jawa Barat.

Jika pada hari biasanya antrean kendaraan yang hilir mudik masuk ke sentra pakaian tersebut sangat padat, ditambah dengan PKL dan parkir liar, namun kini berbeda. 

Kawasan Pasar Baru Bandung Dihias Sambut Peringatan ke-60 KAA (Liputan6.com/Okan Firdaus)

Sepanjang sekitar 100 meter, pengguna jalan akan disuguhkan pemandangan ratusan payung yang dipasang di atas jalan. Seperti di Eropa. Benar-benar bikin pangling.

Selanjutnya: Sukarno Hidup Lagi...

Sukarno Hidup Lagi

Sukarno Hidup Lagi

Sejumlah tokoh pelopor KAA 1955 tiba-tiba muncul dan membuat heboh di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Mereka bahkan berjalan-jalan di Terminal 2 bandara.

Presiden pertama RI Bung Karno beserta istrinya Fatmawati nampak mengenakan pakaian khas mereka. Begitu juga dengan Mohammad Hatta dan istrinya, Ali Sastr0amidjojo.

Sejumlah seniman dari Komunitas Historia Indonesia melakukan aksi teatrikal Konferensi Asia Afrika 1955 di Terminal 2D, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (20/4/15).(Liputan6.com/Faisal R Syam)

Turut pula beberapa tokoh dunia, seperti Pandit Jawaharlal Nehru, U Nu, Chou En Lai, Gamal Abdul Naser, dan Raja Faizal. Padahal tokoh-tokoh penggagas KAA 60 tahun silam ini sudah lama meninggal dunia.

Rupanya mereka yang berjalan-jalan di bandara tersebut adalah para duplikatnya. Yang sengaja ingin mengenalkan tokoh-tokoh besar tersebut pada generasi muda.

Selanjutnya: Gelimang Batu Akik...

Gelimang Batu Akik

Gelimang Batu Akik

Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat bakal menghadiahi batu akik kepada para delegasi negara sahabat yang menghadiri peringatan 60 tahun KAA pada 24 April 2015.

Para kepala negara pria bakal diberi batu akik dari batu-batu raja Sukabumi. Sedangkan para ibu negara akan dihadiahi liontin dari batu jenis pancawarna.

Foto dok. Liputan6.com

Liontin batu akik pancawarna itu memiliki sertifikat keaslian. Tak hanya itu, masing-masing liontin mempunyai ragam corak yang unik. Ada yang menyerupai pemandangan hingga bentuk lukisan abstrak lainnya.

Di pasaran, liontin itu memiliki harga jual Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Namun demi perhelatan besar KAA, batu-batu akik ini secara sukarela disumbangkan untuk dijadikan cenderamata. (Ndy/Yus)

 

 

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya