Evaluasi Garuda Muda: 2 Titik Lemah Masih Teka-teki?

Terlalu riskan bagi Aji Santoso bongkar pasang skuat menghadapi SEA Games 2015, Mampukah Timnas U-23 menjawab tantangan itu?

oleh Rejdo PrahanandaDiterbitkan 03 April 2015, 08:15 WIB
Timnas Indonesia U-23 (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Timnas U-23 Indonesia dipastikan absen dalam gelaran Piala Asia U-22 tahun depan. Kekalahan 0-4 dari Korea Selatan mengubur asa Evan Dimas Cs tampil di Qatar.

Kekalahan dengan skor telak itu pun berdampak masif. Indonesia terlempar dari urutan lima besar runner-up terbaik. Meski demikian, mereka harus segera melupakan  dan merespon kegagalan ini dengan cepat. Karena Juni mendatang, Garuda Muda tampil di ajang SEA Games 2015 Singapura.

Selama perhelatan Kualifikasi Piala Asia U-22, Indonsia sebenarnya tampil menjanjikan. Meski demikian, terdapat pekerjaan rumah yang mesti dirampungkan menatap multi-event dua tahunan tersebut.

Apa saja itu, berikut ulasannya berdasarkan angka statistik dari LabBola

Selanjutnya>>


1

Pra Piala Asia U-23 2016

1. Kreatif dalam Menyerang

Banyak yang beranggapan, Indonesia cukup diuntungkan berada segrup dengan Timor Leste dan Brunei Darussalam; notabene dua tim tersebut memiliki kekuatan di bawah Indonesia.

Tapi, tentu itu tak diraih dengan mudah. Terlebih dalam laga melawan Brunei, Muchlis Hadining cs kesulitan menembus pertahanan lawan. Setidaknya, ada tujuh gol yang mampu dicetak dari tiga pertandingan.

Jumlah itu diperoleh dengan melakukan 15 kali tembakan ke arah gawang lawan. Dari laga melawan Timor Leste, lima gol yang hadir berasal dari delapan tembakan tepat sasaran.

Kemudian melawan Brunei, barisan penyerang Indonesia melakukan tujuh kali melepaskan tendangan yang tepat mengenai sasaran. Selain itu juga melakukan 20 tendangan melenceng dan 10 tendangan mampu diblokir lawan.

Berkaca dari pertandingan melawan Brunei, sangat jelas timnas melakukan banyak percobaan tendangan, terutama dari luar kotak penalti. Kreativitas diperlukan untuk membongkar pertahanan lawan yang bermain ultra-defensif.

Aji Santoso perlu memikirkan skema lain selain memaksimalkan serangan dari sayap dan percobaan tendangan dari luar kotak ketika penyerangnya kesulitan menembus pertahanan lawan.

Ini penting karena SEA Games mendatang Indonesia kemungkinan besar kembali bertemu dengan Brunei, Timor Leste, dan negara Asia Tenggara lain yang disiplin dalam bertahan dan memilih untuk menunggu Indonesia mengambil inisiatif serangan.


2

Penyerang timnas Indonesia U-23, Ilham Udin Armaiyn (20) berebut bola dengan Woo Jusung (Korea Selatan) di laga kualifikasi grup H Piala Asia 2016 di Stadion GBK Jakarta, Selasa (31/3/2015). Indonesia U-23 kalah 0-4. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

2. Organisasi permainan belum terbentuk

Selain lini depan, organisasi permainan belum sepenuhnya terbentuk. Titik lemah ini nampak ketika Indonesia bertekuk lutut dari Korea Selatan.

Lanjut Baca:

Menghadapi lawan dengan kekuatan di atas Indonesia, permainan Manahati dan kawan-kawan didikte oleh lawan. Terus-menerus digempur dengan tempo cepat dan ketika menguasai bola langsung ditekan dengan pressing tinggi. Bagi pemain bertahan, sangat menguras tenaga. Sementara ketika pemain mulai menguasai bola, pemain bingun mengalirkan bola. Situasi itu jelas berbanding lurus dengan minimnya tekanan yang dihasilkan. Hanya ada dua percobaan tendangan dan keduanya melenceng. Jumlah umpan juga minim. Hanya melakukan 357 umpan dengan akurasi 77% di mana 276 umpan tepat sasaran dan sisanya gagal menemui rekannya. Jumlah tersebut jauh jika dibandingkan dua pertandingan sebelumnya. Kala melawan Timor Leste, timnas sempat melakukan 522 umpan dengan akurasi 84,6%. Lalu di laga kedua, 585 umpan dilepaskan dengan akurasi 83,9%. Di SEA Games nanti, Indonesia juga akan bertemu dengan Thailand, Singapura, Malaysia, maupun Vietnam yang organisasi permainannya lebih baik dibanding Brunei Darussalam dan Timor Leste. Transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya perlu betul-betul dilatih agar pemain tak kebingungan ketika mulai menguasai bola. Berani mengambil inisiatif mengatur tempo permainan juga sangat penting, ini karena fisik pemain tidak bisa untuk bermain cepat selama 90 menit. Seperti ketika melawan Korea Selatan, tiga gol terjadi ketika pemain sudah kelelahan akibat diforsir sejak menit pertama.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya