Negara Kaya Minyak Berada di Ambang Kebangkrutan?

‎Pelemahan harga minyak dunia sejak tahun lalu membuat negara-negara penghasil minyak dan gas bumi (migas) terpuruk.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 26 Feb 2015, 13:02 WIB
Ilustrasi Tambang Minyak (Liputan6.com/M.Iqbal)

Liputan6.com, Jakarta - ‎Pelemahan harga minyak dunia sejak tahun lalu membuat negara-negara penghasil minyak dan gas bumi (migas) terpuruk. Kondisi ini diperparah dengan situasi politik dan keamanan negara produsen migas yang memburuk sehingga menimbulkan ketidakpastian ekonomi.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, Indonesia dan beberapa negara lain penghasil migas tengah mengalami masa-masa sulit akibat jatuhnya harga minyak dunia. Apalagi selama ini, Indonesia terserang penyakit Belanda atau kebiasaan mengekspor barang migas mentah tanpa nilai tambah.

"Contohnya Venezuela praktis bangkrut, padahal mereka punya banyak minyak. Libia sedang timbul gejolak karena perang saudara yang memporakporandakan negaranya. Aljazair penghasil migas pun bernasib serupa, Nigeria sebagai salah satu negara dengan perekonomian paling fight di Afrika Barat, kini tidak lagi karena migas," jelas dia di Jakarta, Kamis (25/2/2015).

Paling menyedihkan, kata Sofyan, Rusia yang merupakan produsen migas harus mengalami kondisi kritis setelah harga minyak dunia jatuh ke level terendah dan pelemahan mata uang Rubel sangat signifikan hingga 50 persen.

"Selama ini sumber daya alam membawa keuntungan bagi negara-negara itu. Tapi sayang masih kena penyakit Belanda, karena dari migas, Indonesia dan negara penghasil minyak lain mendapatkan uang banyak, namun kerap membelanjakan untuk hal-hal tidak produktif seperti memanjakan rakyat sehingga kita jadi bangsa lemah atau soft society," terang dia.

Sofyan menuturkan, anggaran atau pendapatan negara harus dialokasikan untuk belanja pendidikan, kesehatan, menciptakan pengusaha dan membangun industri agar pertumbuhan ekonomi Indonesia berkesinambungan, serta membuka lapangan kerja dan mengumpulkan pajak  secara signifikan.

"Dulu memang ada kesalahan kebijakan migas, padahal Aceh dan Bontang masing-masing bisa menjadi kota industri di kawasan Barat dan Timur Indonesia. Maka dari itu, kita mulai memperbaikinya, memberi insentif supaya industri berkembang dan menciptakan multiplier effect berlipat," imbuhnya. (Fik/Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya