Kontrak Baru Tak Sesuai Target Tekan Kinerja Adhi Karya

PT Adhi Karya Tbk membukukan pendapatan turun 11,69 persen menjadi Rp 8,65 triliun pada 2014.

oleh Agustina Melani diperbarui 25 Feb 2015, 20:01 WIB
Ilustrasi Adhi Karya (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Jakarta - Kontrak baru 2014 yang belum mencapai target mempengaruhi kinerja PT Adhi Karya Tbk sepanjang 2014.

Hingga 2014, laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk turun 20,17 persen menjadi Rp 324,07 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 405,97 miliar.

Penurunan laba ini diikuti pendapatan turun 11,69 persen menjadi Rp 8,65 triliun pada 2014. Pada 2013, perseroan masih membukukan kinerja pendapatan Rp 9,79 triliun.

Selain itu, laba kotor setelah ventura bersama konstruksi turun menjadi Rp 1,01 triliun pada 2014 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,24 triliun. Penurunan diikuti laba usaha yang susut 10 persen menjadi Rp 738,26 miliar sepanjang 2014. Melihat kinerja itu, laba per saham turun menjadi 179,91 pada 2014 dari periode sama tahun sebelumnya 225,38.

"Rendahnya perolehan kontrak baru dibandingkan tahun sebelumnya sehingga berdampak pada penurunan pendapatan usaha dan laba," ujar Sekretaris Perusahaan PT Adhi Karya Tbk, Ki Syahgolang P lewat pesan singkat yang diterima Liputan6.com, Rabu (25/2/2015).

Perseroan mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 9,2 triliun pada 2014 dari target kontrak baru sekitar Rp 10,5 triliun. Kontrak baru itu sebagian besar didominasi oleh proyek swasta/lainnya sebesar 52 persen, Badan Usaha Milik Negara/Daerah sebesar 24 persen, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebesar 24 persen.

Untuk pos liabilitas, perseroan mencatatkan liabilitas naik menjadi Rp 8,7 triliun pada 31 Desember 2014 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 8,1 triliun. Ekuitas naik menjadi Rp 1,75 triliun pada 31 Desember 2014.  Perseroan mengantongi kas sebesar Rp 811,41 miliar.

Pada penutupan perdagangan saham hari ini, saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) turun tipis 0,86 persen menjadi Rp 3.440 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 3.373 kali dengan nilai transaksi harian sekitar Rp 78,7 miliar. (Ahm/)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya