Perbatasan Myanmar-China Memanas, 50 Ribu Warga Mengungsi

Jugal Kishore tidak memberi tahu pengantin perempuan dan keluarganya bahwa ia menderita epilepsi. Sehingga calon istrinya marah.

oleh Tanti YulianingsihDiterbitkan 19 Februari 2015, 14:53 WIB
Jugal Kishore tidak memberi tahu pengantin perempuan dan keluarganya bahwa ia menderita epilepsi. Sehingga calon istrinya marah.

Liputan6.com, New Delhi - Sekitar 50 warga dilaporkan telah mengungsi akibat memanasnya situasi di Myanmar. Banyak dari mereka yang melintas perbatasan ke negara tetangganya yaitu China.

Kendati demikian, konvoi truk-truk Palang Merah yang mengangkut lebih dari 100 pengungsi dari zona konflik sempat diserang. Meskipun memasang gambar bendera Palang Merah berukuran besar.

Kepala Palang Merah Myanmar, Thar Hla Shwe, mengatakan belum jelas siapa pelaku serangan itu. Namun saat itu tidak ada operasi militer pemerintah di lokasi tersebut.

"Dua relawan kami cedera, satu di kepala dan lainnya di perut, dan keduanya sudah dirawat di rumah sakit lokal. Kondisi mereka stabil, tetapi kami menyesalkan serangan terhadap para relawan kami. Karena kami hanya melakukan kegiatan kemanusiaan. Mereka mengenakan rompi Palang Merah dan seharusnya mereka terlindungi," papar Shwe seperti dikutip dari VOA News, Kamis (15/2/2015).

Kementerian Informasi Myanmar menuduh pemberontak melakukan serangan tersebut. Juru bicara kepresidenan Ye Htut meminta China agar mengekang pejabat lokal di wilayahnya yang mungkin membantu para pemberontak itu.

Konflik pecah pada 9 Februari lalu setelah aliansi kelompok bersenjata, termasuk laskar MNDAA, menyerang sejumlah fasilitas militer Myanmar untuk merebut lahan yang dikuasai pemerintah semasa konflik pada 2009.

MNDAA adalah sayap militer dari etnis Kokang pimpinan Peng Jiasheng, yang pernah menguasai kawasan otonomi Kokang hingga berakhirnya gencatan senjata yang ditandatangani pada 1989. Ia diyakini hidup dalam pengasingan di China selama lima tahun ini.

Etnis Kokang menginginkan status otonomi lagi dan menentang pemberlakuan hukum darurat tadi.

Harian pemerintah, The Global New Light of Myanmar, Selasa 17 Februari, menyebutkan Presiden Thein Sein bertekad tidak akan kehilangan seinci pun tanah dan akan mempertahankan kedaulatan. Harian itu juga mengatakan tentara masih menguasai Laukkai, bekas ibukota kawasan otonomi itu.

Pihak pemberontak mengatakan tentara Myanmar telah melancarkan serangkaian serangan udara dengan helikopter. Lebih dari 50 tentara pemerintah dan 26 pejuang Kokang dilaporkan telah tewas.

Awal pekan ini, China mengimbau semua pihak yang terlibat dalam konflik agar menahan diri dan pihak berwenang negara itu mengatakan terus membantu warga Myanmar yang mengungsi.

Sebelumnya, Myanmar juga telah memberlakukan status darurat dan tiga bulan masa undang-undang darurat perang di daerah bagian utara, yang telah menghadapi pertempuran maut antara pasukan pemerintah dan pemberontak suku minoritas.

"Langkah yang diumumkan dalam pidato televisi Selasa malam 17 Februari waktu setempat oleh Presiden Thein Sein diambil, karena warga sipil di Kokang terus mengungsi dari daerah pertempuran, yang telah menewaskan sedikitnya 50 tentara dan 26 pemberontak," demikian menurut data pemerintah seperti dikutip dari VOA News, Rabu 18 Februari. (Tnt/Yus)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya