Liputan6.com, Malang - Pihak keluarga penumpang AirAsia QZ8501 memprotes adanya kuota biaya proses pemakaman. Manajemen maskapai tersebut dinilai tidak memperlakukan jenazah penumpang yang menjadi korban pesawat tersebut secara layak.
Protes itu disampaikan kepada perwakilan maskapai AirAsia yang ikut mengantar penyerahan jenazah Rudy Soetjipto di Yayasan Gotong Royong Malang, Jawa Timur, sore tadi.
Rudy beserta istrinya, Lindawati Anggara serta 2 anaknya, Kevin Alexander dan Cindy Clarisa adalah penumpang pesawat rute Surabaya-Singapura yang hilang kontak dan jatuh pada Minggu 28 Desember 2014.
"Biaya proses pemakaman hanya diberi kuota sebesar Rp 25 juta. Kalau biayanya lebih besar, maka sisanya kami tanggung sendiri," kata kakak kandung Rudy, Soejono di Malang, Jawa Timur, Rabu (7/1/2015).
Anak Rudy Soetjipto, Kevin Alexander telah dikremasi pada Minggu 4 Januari lalu. Sedangkan Rudy Soetjipto baru sore ini bisa diidentifikasi dan telah disemayamkan di Yayasan Gotong Royong Malang. Sementara jenazah Lindawati dan Cindy belum diketemukan atau belum teridentifikasi sampai saat ini.
Menurut Soejono, saat proses pemakaman Kevin kemarin biayanya langsung diurusi oleh pihak AirAsia. Namun saat itu ada sejumlah keperluan pemakaman yang harus ditanggung sendiri oleh pihak keluarga. Jenasah Kevin saat itu juga tidak boleh ditempatkan di gedung VIP milik Yayasan Gotong Royong.
"Pihak AirAsia khawatir biayanya melebihi kuota. Itu jenazah manusia, bukan hewan yang biaya pemakamannya dibatasi," tegas Soejono.
Terkait adanya dana asuransi yang akan diberikan, Soejono mengaku belum mendapat informasi itu secara langsung dari pihak AirAsia. Pihak keluarga lebih berharap AirAsia memberi perlakuan yang layak terhadap jenazah.
"Kalaupun akan diberi biaya asuransi sebesar Rp 5 miliar, pihak keluarga akan menolak itu. Adik saya Rudy punya uang lebih daripada itu," papar Soejono.
Perwakilan AirAsia, Dinus Hafis, berjanji akan menyampaikan hal itu kepada manajemen. "Maaf saya tidak bisa berkomentar. Tapi pasti akan saya sampaikan langsung ke manajemen," ucap Dinus. (Ans)
Advertisement